Jumat, 23 Juli 2010

Sosok Sastrawan dan Budayawan Paripurna

Sosok Ajip Rosidi di mata rekan-rekannya sesama pencinta sastra
dan kebudayaan merupakan sosok yang lengkap, paripurna. Selain
dikenal sebagai sastrawan Sunda, Ajip juga dikenal sebagai sosok
yang memperkaya sastra Indonesia dan memperkenalkan
kebudayaan Sunda di dunia internasional. Ketua Yayasan
Kebudayaan Rancage itu juga dinilai sebagai sosok yang bisa
melepaskan diri dari kecenderungan polarisasi dalam banyak hal.
Salah satunya, polarisasi antara kebudayaan modern dan
kebudayaan tradisional.

Pulang dari Jepang, setelah tinggal di sana selama 22 tahun, Ajip Rosidi merasa gamang. Kegamangan itu dipicu oleh kekhawatiran adanya "pengultusan" terhadap dirinya. Juga kegamangan akan nasib budaya tradisional yang terus terlindas oleh budaya global.

"Saya merasa ngeri karena saya mendapat kesan bahwa saya
hendak dikultuskan sehingga timbul pikiran menciptakan Ajip-Ajip
baru. Saya ngeri karena saya khawatir hal itu menimbulkan rasa
takabur," katanya.

Suara batin itu diungkapkan Ajip Rosidi di hadapan para pencinta
sastra, termasuk para pengagumnya, pada seminar di Universitas
Padjadjaran, Bandung, yang khusus membedah kiprahnya di dunia
sastra, Rabu (28/5/03).

Hampir semua yang hadir memuji semangat dan dedikasi
sastrawan kelahiran Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari
1938, itu. Pengamat sastra Dr Faruk HT, misalnya, secara implisit
memosisikan Ajip sebagai "orang langka" dengan kelebihan yang
tidak dimiliki HB Jassin, Goenawan Mohamad, dan Soebagio
Sastrowardoyo.

Ajip dinilai sebagai sosok yang bisa melepaskan diri dari
kecenderungan polarisasi dalam banyak hal. Salah satunya,
polarisasi antara kebudayaan modern dan kebudayaan tradisional.
Ketika kebudayaan modern dianggap sebagai pilihan yang niscaya,
kata Faruk, Ajip malah getol berbicara tentang kebudayaan
tradisional.

Redaktur PN Balai Pustaka (1955-1956) itu dikenal sangat taat
asas (konsisten) mengembangkan kebudayaan daerah. Terbukti,
Hadiah Sastra Rancage-penghargaan untuk karya sastra Sunda,
Jawa, dan Bali-masih rutin dikeluarkan setiap tahun sejak pertama
kali diluncurkan tahun 1988.

Tidak ada komentar: