Jumat, 23 Juli 2010

Fauzi Bowo Perhatian Terhadapa Budaya Sunda Yang Baku Dan Bali Menjabat Menteri Yang Dimiliki Jogja Dan Lain-Lain Nama Ir Yang Digelar Rabu

Maklum, ia tidak disibukkan mengurus kegiatan-kegiatan lain yang
cukup menyita waktu, sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta
(1972-1981), Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Direktur
Penerbit Dunia Pustaka Jaya, maupun Pemimpin Redaksi Majalah
Kebudayaan Budaya Jaya (1968-1979). Hasilnya, lebih dari 50 judul
buku dalam bahasa Indonesia dan Sunda ditulisnya selama di
Jepang.

Satu hal yang mengesankan Ajip tentang masyarakat Jepang
adalah kesadaran mereka akan pentingnya sastra dalam hidup
mereka. Menurut Ajip, sastra tidak hanya menjadi bahan konsumsi
para sastrawan atau budayawan, tetapi juga telah menjadi bahan
bacaan para dokter atau arsitektur.

Kondisi itu tercipta akibat dukungan kebijakan pemerintah dan
budaya yang ada. Ajip mengatakan, masyarakat Jepang sejak usia
dini telah diperkenalkan dengan buku. "Anak kecil sejak umur dua
hingga tiga tahun sudah diperkenalkan dengan buku."

Kondisi perbukuan di Jepang juga mendukung terciptanya suasana
itu. Harga buku di sana ditetapkan sama di semua wilayah. " Harga
majalah juga sama," katanya.
Pendidikan juga lebih tertata rapi, tinggal melanjutkan tradisi yang
sudah berkembang. Tradisi itu mulai tertancap sejak reformasi Meiji.
Reformasi yang ditandai dengan pengiriman orang-orang Jepang
ke negara-negara maju untuk belajar banyak hal.

Selain itu, juga dilakukan penerjemahan besar-besaran berbagai
macam ilmu, karya budaya, dan karya sastra ke dalam bahasa
Jepang. "Jadi, orang Jepang, walaupun tidak bisa bahasa asing,
misalnya, mereka mengetahui (dan) menguasai ilmu-ilmu di negara-
negara asing," kata Ajip.
Semua itu dilakukan bangsa Jepang dengan penuh semangat dan
keseriusan. Seorang profesor asal Amerika Serikat yang mengajar
bahasa Inggris di Jepang bercerita kepada Ajip, ada seorang
mahasiswanya belajar dengan menghafal kamus bahasa Inggris.

Orang Jepang memang dikenal sebagai bangsa yang amat bangga
dengan bahasanya sendiri, tetapi hal itu tidak membuat mereka
antibahasa asing. Minat orang Jepang terhadap studi-studi
Indonesia juga cukup kuat. Jurusan Bahasa Indonesia (Indoneshia-
go Gakuka) sudah ada di Tokyo Gaikokugo Daigaku sejak tahun
1949.

Selama mengajar di Jepang, Ajip tidak pernah kekurangan
mahasiswa. Di Osaka Gaidai, ia mengajar rata-rata 30 mahasiswa
setiap tahun, 40 mahasiswa di Kyoto Sangyo Daigaku, dan 60
mahasiswa di Tenri Daigaku. "Saya mengajar bahasa Indonesia, sastra Indonesia, budaya
Indonesia, dan Islam di Indonesia," kata Ajip. Beberapa muridnya
kini sudah menjadi presiden direktur dan manajer pada
perusahaan-perusahaan Jepang di Indonesia.

Namun, Ajip mencatat, tingginya gairah dan minat mereka terhadap
bahasa asing bergantung pada kepentingan terhadap negara yang
dipelajari itu. Ketika perekonomian Indonesia berkembang,
perhatian orang Jepang terhadap bahasa Indonesia meningkat.
"Sekarang Indonesia ambruk, perhatian juga berkurang. Ada
beberapa universitas yang tadinya punya jurusan bahasa
Indonesia, sekarang dan diganti dengan Cina," katanya Aji

Tidak ada komentar: