Jakarta, Sejarahnya Dulu
22 Jun 2010
* Hiburan
* Pelita
JAKARTA pertama kali dikenal sebagai salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda yang bernama Sunda Kelapa, berlokasi di muara Sungai Ciliwung. Ibukota Kerajaan Sunda yang dikenal sebagai Dayeuh Pakuan Pajajaran atau Pajajaran (sekarang Bogor) dapat ditempuh dari pelabuhan Sunda Kalapa selama dua hari perjalanan. Menurut sumber Portugis, Sunda Kalapa merupakan salah satu pelabuhan yang dimiliki Kerajaan Sunda selain pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara dan Cimanuk.
Sunda Kalapa yang dalam teks ini disebut Kalapa dianggap pelabuhan yang terpenting karena dapat ditempuh dari ibu kota kerajaan yang disebut dengan nama Dayo (dalam bahasa Sunda modem dayeuh yang berarti ibu kota) dalam tempo dua hari. Kerajaan Sunda sendiri merupakan kelanjutan dari Kerajaan Tarumanagara pada abad ke-5 sehingga pelabuhan ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-5 dan diperkirakan merupakan ibukota Tarumanagara yang disebut Sun-dapura.
Pada abad ke-12, pelabuhan ini dikenal sebagai pelabuhan lada yang sibuk. Kapal-kapal asing yang berasal dari Tiongkok, Jepapg, India Selatan, dan TimurTengah sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi komoditas dagang saat itu.
Orang Portugis merupakan" orang Eropa pertama yang datang ke Jakarta. Pada abad ke-16. Surawisesa, raja Sunda meminta bantuan Portugis yang ada di Malaka untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa sebagai perlindungan dari kemungkinan serangan Cirebon yang akan memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. Upaya permintaan bantuan Surawisesa kepada Portugis di Malaka tersebut diabadikan oleh orang Sunda dalam cerita pantun seloka Mundinglaya Dikusumah, dimana Surawisesa diselokakan dengan nama gelarnya yaitu Mundinglaya.
Namun sebelum pendirian benteng tersebut terlaksana. Cirebon yang dibantu Demak langsung menyerang .pelabuhan tersebut. Orang Sundamenyebut peristiwa Ini tragedi, karena penyerangan tersebut membumihanguskan kota pelabuhan tersebut dan membunuh banyak rakyat Sunda disana termasuk syahbandar pelabuhan.
Tatahillah
PENETAPAN hari jadi Jakarta tanggal 22 Juni adalah berdasarkan tragedi penak-lukan pelabuhan Sunda Kalapa oleh Fatahillah pada tahun 1527 dan mengganti nama kota tersebut menjadi Jayakarta yang berarti "kota kemenangan". Selanjutnya Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon, menyerahkan pemerintahan di Jayakarta kepada putranya-yaitu Sultan Maulana Hasanuddin yang menjadi sultan di Kesultanan Banten.
Orang Belanda datang ke Jayakarta sekitar akhir abad ke-16, setelah singgah di Banten pada tahun 1596. Jayakarta pada awal abat ke-17 diperintah oleh Pangeran Jayakarta, salah seorang kerabat Kesultanan Banten. Pada 1619, VOC dipimpin oleh Jan Pieters-zoon Coen menduduki Jayakarta setelah mengalahkan pasukan Kesultanan Banten dan kemudian mengubah namanya menjadi Batavia. Selama kolonialisasi Belanda, Batavia berkembang menjadi kota yang besar dan penting.
Untuk pembangunan kota. Belanda banyak mengimpor budak-budak sebagai pekerja. Kebanyakan dari mereka berasal dari Bali. Sulawesi. Maluku, Tiongkok, dan pesisir Malabar, India. Sebagian berpendapat bahwa mereka inilah yang kemudian membentuk komunitas yang dikenal dengan nama suku Betawi. Waktu itu luas Batavia hanya mencakup daerah yang saat ini dikenal sebagai Kota Tua di Jakarta Utara.
Sebelum kedatangan para budak tersebut, sudah ada masyarakat Sunda yang tinggal di wilayah Jayakarta seperti masyarakat Jatinegara Kaum. Sedangkan suku-suku dari etnis pendatang, pada zaman kolinfalisme Belanda, membentuk wilayah komunitasnya masing-masing karena taktik Belanda "divide et impera". Maka di Jakarta ada wilayah-wilayah bekas komunitas itu seperti Pecinan, Pekojan. Kampung Melayu. Kampung Bandan. Kampung Ambon. Kampung Bali, dan Manggarai.
Pada 1 Januari 1926 pemerintah Hindia Belanda membagi Pulau Jawa menjadi 3 provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur dimana Batavia dijadikan salah satu keresidenan dalam provinsi Jawa Barat disamping
Banten, Buitenzorg (Bogor), Priangan, dan Cirebon.
Pada tanggal 9 Oktober 1740, terjadi kerusuhan di Batavia dengan terbunuhnya 5.000 orang Tionghoa. Dengan terjadinya kerusuhan ini. banyak orang Tionghoa yang lari ke luar kota dan melakukan perlawanan terhadap Belanda. Dengan selesainya Koning-splein (Gambir) pada tahun 1818. Batavia berkembang ke arah selatan.
Tahun 1920 .Belanda membangun kota taman Menteng, dan wilayah ini menjadi tempatbaru bagi petinggi Belanda menggantikan Molenvliet di utara. Di awal abad ke-20. Batavia di utara, Koningspein. dan Mester Cornelis (Jatinegara) telah terintegrasi menjadi sebuah kota. Penjajahan oleh Jepangdimulai pada tahun 1942 dan mengganti nama Batavia menjadi Jakarta untuk menarik hati penduduk pada Perang Dunia II. Kota ini juga merupakan tempat dilangsungkannya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan diduduki Belanda sampai pengakuan kedaulatan tahun 1949.
Sejak dinyatakan sebagai ibukota, penduduk Jakarta melonjak sangat pesat akibat kebutuhan tenaga kerja kepemerintahan yang hampir semua terpusat di Jakarta.
Dalam waktu lima tahun penduduknya berlipat lebih dari dua. Berbagai kantung pemukiman kelas menengah baru kemudian berkembang, seperti Kebayoran Baru, Cempaka Putih. Rawamangun, dan Pejompongan. Pusat-pusatpemukiman juga banyak dibangun secara mandiri oleh berbagai kementerian dan institusi milik negara seperti Perum Perumnas.
Pada masa pemerintahan Soekarno, Jakarta melakukan pembangunan proyek besar, antara lain Gelora Bung Karno. Mesjid Istiqlal. dan Monumen Nasional. Pada masa ini pula Poros Medan Merdeka-Tham-rin-Sudlrman mulai dikembangkan sebagai pusat bisnis kota, menggantikan poros Medan Merdeka-Senen-Salem-ba-Jatinegara. Pusat pemukiman besar pertama yang dibuat oleh pihak pengembang swasta adalah Pondok Indah (oleh PT Pembangunan Jaya) pada akhir dekade 1970-an di wilayah Jakarta Selatan.
Jakarta memiliki luas sekitar 661.52 km2 (lautan 6.977.5 km2), dengan penduduk berjumlah 7.552.444 jiwa (2005). Bersama metropolitan Jabodetabek yang berpenduduk sekitar 23 juta jiwa, wilayah ini merupakan metropolitan terbesar di Indonesia atau urutan keenam dunia.
Kini wilayah Jabotabek telah terintegrasi dengan wilayah Bandung Raya, dimana mega-polis Jabodetabek-Bandung Raya mencakup sekitar 30 juta jiwa, yang menempatkan wilayah ini di urutan kedua dunia, setelah megapolis Tokyo.
Bang AU
SOSOK almarhum Ali Sadikin di mata warga Jakarta tidak hanya dikenal sebagai mantan Gubernur DKI Jakarta, tetapi berjasa besar dalam mengubah Jakarta dari sebuah "kampung besar" (big viilage) menjadi kota besar yang megah dan modern dengan berbagai proyek mercusuar pembangunan membanggakan mulai dari Taman Ismail Marzuki fTIM), proyek Senen,kota satelit Pluit, dan pencetus perayaan Jakarta Fair kini berubah menjadi Pekan Raya Jakarta (PRJ).
"Dengan pembangunan fisik dilakukan Bang Ali. Jakarta berubah dari kampung yang besar menjadi sebuah kota yang besar dan megah," kata Sekda DKI Jakarta ketika berziarah di makam Ali Sadikin, baru-baru ini dalam rangka HUT Jakarta.
Menurut Muhayat kegiatan ziarah ke makam pahlawan termasuk mantan Gubernur Ali Sadikin dihadiri sejumlah pejabat Pemprov DKI Jakarta dan Walikota Jaksel Syahrul Effendi, diharapkan semakin mengingatkan masyarakat terhadap jasa para pahlawan termasuk mantan gubernur yang sangat merakyat itu.
Mantan Gubernur DKI Jakarta AH Sadikin, wafat 21 Mei 2008 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir. Jaksel. Sebelum wafat, sosok Ali Sadikin pemimpin tegas dan dikenal memiliki prinsip dan karakter kuat. Tak heran di saat Bang Ali wafat, warga Jakarta merasa kehilangan.
Semasa hidup Ali Sadikin pernah menjabat sebagai Deputi II Panglima Angkatan Laut (1959-1963). Menteri Perhubungan Laut Kabinet Kerja (1963-1964). dan Menko Kompartemen Maritim/Menterl Perhubungan Laut Kabinet Dwikora dan Kabinet Dwikora yang disempurnakan (1964-1966). dan terakhir sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 1966-1977.
Jebolan Sekolah Tinggi Pelayaran Semarang (1945) dan US Marine Corps School Amerika Serikat ini juga merupakan orang pertama yang menerima Anugerah Cipta Utama dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).(naz/jon)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar