Organisasi Urang Sunda Gelar Halal Bi Halal PDF Cetak E-mail
Kliping Berita
Sabtu, 31 Oktober 2009 09:39
[Liputan 6 SCTV]
Liputan 6 SCTV
Liputan6.com, Jakarta: Badan Musyawarah Masyarakat Sunda (Bammus Sunda) menggelar halal bi halal serta silaturahim dengan masyarakat Sunda yang bermukim di Jakarta, Jumat (30/10). Ketua Bammus Sunda Adang Daradjatun menekankan organisasi urang Sunda ini tidak terlibat dalam kegiatan politik tetapi berkonsentrasi pada kegiatan sosial.
Hampir seluruh pengurus, dewan pakar, dan tokoh Bammus Sunda dari kalangan DPR, seniman, artis, pelawak, serta praktisi ekonomi hadir dalam halal bi halal ini. Dalam acara juga dihadirkan sejumlah kesenian Sunda seperti tari rampak gendang dan koleksi batik Nunun Daradjatun.(JUM)
Jumat, 23 Juli 2010
FESTIVAL ADAT PERKAWINAN INDONESIA MEMUKAU DI ATHENA
FESTIVAL ADAT PERKAWINAN INDONESIA MEMUKAU DI ATHENA
London, 29/5 (ANTARA) - Sekitar 500 undangan yang terdiri dari isteri pejabat dan Duta Besar negara asing di Athena, anggota Women International Club (WIC), pengusaha, dan undangan dengan antusias mengikuti prosesi pernikahan yang dibawakan 32 peserta Asosiasi Perias Pengantin Seluruh Indonesia (HARPI Melati).
Pementasan adat perkawinan Sunda dan Bangka tampil memikat pada acara "Indonesian Traditional Wedding Festival yang sebelum prosesi pernikahan ditampilkan, anggota HARPI, Ny. Lilis Zakaria juga memperagakan kebolehannya dalam merias pengantin yang mengundang decak kagum para pengunjung di Hotel Divani Caravel, Athena, ujar Sekretaris Kedua, Widya Sinedu, kepada koresponden Antara London, Sabtu.
Selanjutnya, prosesi adat Sunda mulai dari acara Sungkeman, Saweran, Nincak Endog and Huap Lingkung menjadi daya tarik yang luar biasa. Penonton juga terkagum-kagum dengan rangkaian upacara pernikahan adat Bangka yang menonjolkan nilai-nilai keagamaan dan sosial, ujarnya.
Kesakralan prosesi pernikahan yang dilakoni dengan penuh penjiwaan oleh anggota HARPI membawa undangan seolah-olah berada pada hajatan pernikanan yang sesungguhnya. Keindahan dan keunikan gaun pengantin dan perlengkapan adat Sunda dan Bangka membuat para tamu terkesan dan mengagumi keragaman budaya Indonesia.
Nuansa adat Indonesia semakin kental melalui penataan panggung, Ruang Olympia, Hotel Divani Caravel, yang disulap menjadi pelaminan oleh staf KBRI Athena.
Aneka tanaman dan bunga dipadukan dengan dekorasi nuansa Indonesia seperti payung Bali, aneka kain batik dan tenun ikat, wayang orang, perabotan, poster, lukisan dan ornamen lainnya menambah semarak acara tersebut.
Terlebih seluruh panitia baik dari KBRI Athena maupun HARPI mengenakan busana nasional Indonesia yang mengundang perhatian pengunjung.
Pementasan prosesi pernikahan Sunda dan Bangka dipadukan pula dengan persembahan Tari Topeng dan Tari Merak yang dibawakan dengan lincah oleh anggota HARPI, Ny. Mayasari Yudiono.
Membatik
Para undangan juga merasa tertarik ketika sebelum masuk hall menyaksikan cara membatik yang dipadu-padankan dengan motif tradisional oleh pembatik yang sengaja didatangkan dari Pekalongan sebagai bukti nyata promosi budaya dan wisata.
Selain itu, anggota HARPI lainnya, Ny. Titin Agus Lubis secara khusus menampilkan keahliannya dalam merangkai empat jenis bunga tangan mempelai khas Indonesia.
Sebagai penghargaan kepada para tamu, hasil rangkaian bunga tangan tersebut diberikan kepada Ketua WIC, Olga Roupassdan dan tamu kehormatan lainnya istri Dubes RI untuk Yunani, Ny Anita Rusdi
Acara semakin meriah dengan pagelaran pakaian pengantin tradisional dari 22 daerah oleh Ibu-ibu anggota HARPI.
Peragaan dibuka dengan pakaian pengantin daerah Bali dan ditutup pagelaran pakaian dari Papua dengan iringan lagu Yamko Rambe Yamko dan Gebyar-gebyar.
Peragaan busana menyita perhatian dan mendapat tepukan tangan penonton karena menampilkan pakaian pengantin daerah dan aksesoris yang elegan, terbuat dari bahan, model, corak, dan warna yang bervariasi.
Peragaan busana nusantara ini mampu menginspirasi para undangan yang umumnya kaum wanita dalam memadukan pakaian dan aksesoris serta memilih corak dan mode pakaian yang serasi.
Peragaan tersebut dilanjutkan dengan jamuan santap siang menampilkan kuliner Indonesia atas kerja sama Dharma Wanita dan Hotel Divani Caravel yang diiringi lagu-lagu daerah Indonesia.
Persahabatan
Duta Besar RI untuk Republik Yunani, Ahmad Rusdi, mengemukakan, kegiatan dimaksud menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan seni dan budaya Indonesia sekaligus menjalin persahabatan antara masyarakat Indonesia dan masyarakat Yunani, disamping sebagai upaya untuk meningkatkan promosi obyek wisata Indonesia yang beragam.
Dubes Rusdi lebih lanjut menyampaikan bahwa Indonesia adalah bangsa yang cinta damai, menjunjung tinggi toleransi dan terbuka sehingga lebih mudah berinteraksi dan dikenal oleh bangsa lainnya.
Sementara Ketua HARPI, Ny. Endang Sugiarto, menyampaikan agar pergelaran budaya Indonesia ini dapat menjadi jendela bagi warga masyarakat Yunani dan warga asing lainnya untuk melihat secara langsung kekayaan dan keragaman budaya dan tradisi Indonesia.
Disampaikan pula kesuksesan HARPI dalam mematenkan 90 jenis gaya pengantin sebagai kebudayaan asli Indonesia. HARPI merupakan kumpulan perias pengantin dari 33 propinsi yang dibentuk sejak tahun 1974 dengan berbagai kegiatan, telah melanglang buana antara lain ke Kanada, Jepang, China, Korea Selatan, Kairo dan kali ini ke Yunani.
Selanjutnya, Ketua International WIC di Athena, Olga Rompas, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas keberhasilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Athena yang mendatangkan HARPI dengan memperagakan upacara perkawinan sebagai cerminan budaya Indonesia yang unik dan sangat menghormati nilai-nilai ritual keagamaan dan adat.
Menjelang akhir acara, para tamu secara bergantian meminta foto bersama dengan para model pengantin dan para peraga busana. Berbagai pujian terlontarkan saat mereka berpamitan pulang dan ucapan terima kasih atas kenang-kenangan berupa souvenir, tas batik, dan brosur pariwisata Indonesia yang diberikan oleh panitia.
London, 29/5 (ANTARA) - Sekitar 500 undangan yang terdiri dari isteri pejabat dan Duta Besar negara asing di Athena, anggota Women International Club (WIC), pengusaha, dan undangan dengan antusias mengikuti prosesi pernikahan yang dibawakan 32 peserta Asosiasi Perias Pengantin Seluruh Indonesia (HARPI Melati).
Pementasan adat perkawinan Sunda dan Bangka tampil memikat pada acara "Indonesian Traditional Wedding Festival yang sebelum prosesi pernikahan ditampilkan, anggota HARPI, Ny. Lilis Zakaria juga memperagakan kebolehannya dalam merias pengantin yang mengundang decak kagum para pengunjung di Hotel Divani Caravel, Athena, ujar Sekretaris Kedua, Widya Sinedu, kepada koresponden Antara London, Sabtu.
Selanjutnya, prosesi adat Sunda mulai dari acara Sungkeman, Saweran, Nincak Endog and Huap Lingkung menjadi daya tarik yang luar biasa. Penonton juga terkagum-kagum dengan rangkaian upacara pernikahan adat Bangka yang menonjolkan nilai-nilai keagamaan dan sosial, ujarnya.
Kesakralan prosesi pernikahan yang dilakoni dengan penuh penjiwaan oleh anggota HARPI membawa undangan seolah-olah berada pada hajatan pernikanan yang sesungguhnya. Keindahan dan keunikan gaun pengantin dan perlengkapan adat Sunda dan Bangka membuat para tamu terkesan dan mengagumi keragaman budaya Indonesia.
Nuansa adat Indonesia semakin kental melalui penataan panggung, Ruang Olympia, Hotel Divani Caravel, yang disulap menjadi pelaminan oleh staf KBRI Athena.
Aneka tanaman dan bunga dipadukan dengan dekorasi nuansa Indonesia seperti payung Bali, aneka kain batik dan tenun ikat, wayang orang, perabotan, poster, lukisan dan ornamen lainnya menambah semarak acara tersebut.
Terlebih seluruh panitia baik dari KBRI Athena maupun HARPI mengenakan busana nasional Indonesia yang mengundang perhatian pengunjung.
Pementasan prosesi pernikahan Sunda dan Bangka dipadukan pula dengan persembahan Tari Topeng dan Tari Merak yang dibawakan dengan lincah oleh anggota HARPI, Ny. Mayasari Yudiono.
Membatik
Para undangan juga merasa tertarik ketika sebelum masuk hall menyaksikan cara membatik yang dipadu-padankan dengan motif tradisional oleh pembatik yang sengaja didatangkan dari Pekalongan sebagai bukti nyata promosi budaya dan wisata.
Selain itu, anggota HARPI lainnya, Ny. Titin Agus Lubis secara khusus menampilkan keahliannya dalam merangkai empat jenis bunga tangan mempelai khas Indonesia.
Sebagai penghargaan kepada para tamu, hasil rangkaian bunga tangan tersebut diberikan kepada Ketua WIC, Olga Roupassdan dan tamu kehormatan lainnya istri Dubes RI untuk Yunani, Ny Anita Rusdi
Acara semakin meriah dengan pagelaran pakaian pengantin tradisional dari 22 daerah oleh Ibu-ibu anggota HARPI.
Peragaan dibuka dengan pakaian pengantin daerah Bali dan ditutup pagelaran pakaian dari Papua dengan iringan lagu Yamko Rambe Yamko dan Gebyar-gebyar.
Peragaan busana menyita perhatian dan mendapat tepukan tangan penonton karena menampilkan pakaian pengantin daerah dan aksesoris yang elegan, terbuat dari bahan, model, corak, dan warna yang bervariasi.
Peragaan busana nusantara ini mampu menginspirasi para undangan yang umumnya kaum wanita dalam memadukan pakaian dan aksesoris serta memilih corak dan mode pakaian yang serasi.
Peragaan tersebut dilanjutkan dengan jamuan santap siang menampilkan kuliner Indonesia atas kerja sama Dharma Wanita dan Hotel Divani Caravel yang diiringi lagu-lagu daerah Indonesia.
Persahabatan
Duta Besar RI untuk Republik Yunani, Ahmad Rusdi, mengemukakan, kegiatan dimaksud menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan seni dan budaya Indonesia sekaligus menjalin persahabatan antara masyarakat Indonesia dan masyarakat Yunani, disamping sebagai upaya untuk meningkatkan promosi obyek wisata Indonesia yang beragam.
Dubes Rusdi lebih lanjut menyampaikan bahwa Indonesia adalah bangsa yang cinta damai, menjunjung tinggi toleransi dan terbuka sehingga lebih mudah berinteraksi dan dikenal oleh bangsa lainnya.
Sementara Ketua HARPI, Ny. Endang Sugiarto, menyampaikan agar pergelaran budaya Indonesia ini dapat menjadi jendela bagi warga masyarakat Yunani dan warga asing lainnya untuk melihat secara langsung kekayaan dan keragaman budaya dan tradisi Indonesia.
Disampaikan pula kesuksesan HARPI dalam mematenkan 90 jenis gaya pengantin sebagai kebudayaan asli Indonesia. HARPI merupakan kumpulan perias pengantin dari 33 propinsi yang dibentuk sejak tahun 1974 dengan berbagai kegiatan, telah melanglang buana antara lain ke Kanada, Jepang, China, Korea Selatan, Kairo dan kali ini ke Yunani.
Selanjutnya, Ketua International WIC di Athena, Olga Rompas, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas keberhasilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Athena yang mendatangkan HARPI dengan memperagakan upacara perkawinan sebagai cerminan budaya Indonesia yang unik dan sangat menghormati nilai-nilai ritual keagamaan dan adat.
Menjelang akhir acara, para tamu secara bergantian meminta foto bersama dengan para model pengantin dan para peraga busana. Berbagai pujian terlontarkan saat mereka berpamitan pulang dan ucapan terima kasih atas kenang-kenangan berupa souvenir, tas batik, dan brosur pariwisata Indonesia yang diberikan oleh panitia.
Jakarta, Sejarahnya Dulu --- 22 Jun 2010
Jakarta, Sejarahnya Dulu
22 Jun 2010
* Hiburan
* Pelita
JAKARTA pertama kali dikenal sebagai salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda yang bernama Sunda Kelapa, berlokasi di muara Sungai Ciliwung. Ibukota Kerajaan Sunda yang dikenal sebagai Dayeuh Pakuan Pajajaran atau Pajajaran (sekarang Bogor) dapat ditempuh dari pelabuhan Sunda Kalapa selama dua hari perjalanan. Menurut sumber Portugis, Sunda Kalapa merupakan salah satu pelabuhan yang dimiliki Kerajaan Sunda selain pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara dan Cimanuk.
Sunda Kalapa yang dalam teks ini disebut Kalapa dianggap pelabuhan yang terpenting karena dapat ditempuh dari ibu kota kerajaan yang disebut dengan nama Dayo (dalam bahasa Sunda modem dayeuh yang berarti ibu kota) dalam tempo dua hari. Kerajaan Sunda sendiri merupakan kelanjutan dari Kerajaan Tarumanagara pada abad ke-5 sehingga pelabuhan ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-5 dan diperkirakan merupakan ibukota Tarumanagara yang disebut Sun-dapura.
Pada abad ke-12, pelabuhan ini dikenal sebagai pelabuhan lada yang sibuk. Kapal-kapal asing yang berasal dari Tiongkok, Jepapg, India Selatan, dan TimurTengah sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi komoditas dagang saat itu.
Orang Portugis merupakan" orang Eropa pertama yang datang ke Jakarta. Pada abad ke-16. Surawisesa, raja Sunda meminta bantuan Portugis yang ada di Malaka untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa sebagai perlindungan dari kemungkinan serangan Cirebon yang akan memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. Upaya permintaan bantuan Surawisesa kepada Portugis di Malaka tersebut diabadikan oleh orang Sunda dalam cerita pantun seloka Mundinglaya Dikusumah, dimana Surawisesa diselokakan dengan nama gelarnya yaitu Mundinglaya.
Namun sebelum pendirian benteng tersebut terlaksana. Cirebon yang dibantu Demak langsung menyerang .pelabuhan tersebut. Orang Sundamenyebut peristiwa Ini tragedi, karena penyerangan tersebut membumihanguskan kota pelabuhan tersebut dan membunuh banyak rakyat Sunda disana termasuk syahbandar pelabuhan.
Tatahillah
PENETAPAN hari jadi Jakarta tanggal 22 Juni adalah berdasarkan tragedi penak-lukan pelabuhan Sunda Kalapa oleh Fatahillah pada tahun 1527 dan mengganti nama kota tersebut menjadi Jayakarta yang berarti "kota kemenangan". Selanjutnya Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon, menyerahkan pemerintahan di Jayakarta kepada putranya-yaitu Sultan Maulana Hasanuddin yang menjadi sultan di Kesultanan Banten.
Orang Belanda datang ke Jayakarta sekitar akhir abad ke-16, setelah singgah di Banten pada tahun 1596. Jayakarta pada awal abat ke-17 diperintah oleh Pangeran Jayakarta, salah seorang kerabat Kesultanan Banten. Pada 1619, VOC dipimpin oleh Jan Pieters-zoon Coen menduduki Jayakarta setelah mengalahkan pasukan Kesultanan Banten dan kemudian mengubah namanya menjadi Batavia. Selama kolonialisasi Belanda, Batavia berkembang menjadi kota yang besar dan penting.
Untuk pembangunan kota. Belanda banyak mengimpor budak-budak sebagai pekerja. Kebanyakan dari mereka berasal dari Bali. Sulawesi. Maluku, Tiongkok, dan pesisir Malabar, India. Sebagian berpendapat bahwa mereka inilah yang kemudian membentuk komunitas yang dikenal dengan nama suku Betawi. Waktu itu luas Batavia hanya mencakup daerah yang saat ini dikenal sebagai Kota Tua di Jakarta Utara.
Sebelum kedatangan para budak tersebut, sudah ada masyarakat Sunda yang tinggal di wilayah Jayakarta seperti masyarakat Jatinegara Kaum. Sedangkan suku-suku dari etnis pendatang, pada zaman kolinfalisme Belanda, membentuk wilayah komunitasnya masing-masing karena taktik Belanda "divide et impera". Maka di Jakarta ada wilayah-wilayah bekas komunitas itu seperti Pecinan, Pekojan. Kampung Melayu. Kampung Bandan. Kampung Ambon. Kampung Bali, dan Manggarai.
Pada 1 Januari 1926 pemerintah Hindia Belanda membagi Pulau Jawa menjadi 3 provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur dimana Batavia dijadikan salah satu keresidenan dalam provinsi Jawa Barat disamping
Banten, Buitenzorg (Bogor), Priangan, dan Cirebon.
Pada tanggal 9 Oktober 1740, terjadi kerusuhan di Batavia dengan terbunuhnya 5.000 orang Tionghoa. Dengan terjadinya kerusuhan ini. banyak orang Tionghoa yang lari ke luar kota dan melakukan perlawanan terhadap Belanda. Dengan selesainya Koning-splein (Gambir) pada tahun 1818. Batavia berkembang ke arah selatan.
Tahun 1920 .Belanda membangun kota taman Menteng, dan wilayah ini menjadi tempatbaru bagi petinggi Belanda menggantikan Molenvliet di utara. Di awal abad ke-20. Batavia di utara, Koningspein. dan Mester Cornelis (Jatinegara) telah terintegrasi menjadi sebuah kota. Penjajahan oleh Jepangdimulai pada tahun 1942 dan mengganti nama Batavia menjadi Jakarta untuk menarik hati penduduk pada Perang Dunia II. Kota ini juga merupakan tempat dilangsungkannya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan diduduki Belanda sampai pengakuan kedaulatan tahun 1949.
Sejak dinyatakan sebagai ibukota, penduduk Jakarta melonjak sangat pesat akibat kebutuhan tenaga kerja kepemerintahan yang hampir semua terpusat di Jakarta.
Dalam waktu lima tahun penduduknya berlipat lebih dari dua. Berbagai kantung pemukiman kelas menengah baru kemudian berkembang, seperti Kebayoran Baru, Cempaka Putih. Rawamangun, dan Pejompongan. Pusat-pusatpemukiman juga banyak dibangun secara mandiri oleh berbagai kementerian dan institusi milik negara seperti Perum Perumnas.
Pada masa pemerintahan Soekarno, Jakarta melakukan pembangunan proyek besar, antara lain Gelora Bung Karno. Mesjid Istiqlal. dan Monumen Nasional. Pada masa ini pula Poros Medan Merdeka-Tham-rin-Sudlrman mulai dikembangkan sebagai pusat bisnis kota, menggantikan poros Medan Merdeka-Senen-Salem-ba-Jatinegara. Pusat pemukiman besar pertama yang dibuat oleh pihak pengembang swasta adalah Pondok Indah (oleh PT Pembangunan Jaya) pada akhir dekade 1970-an di wilayah Jakarta Selatan.
Jakarta memiliki luas sekitar 661.52 km2 (lautan 6.977.5 km2), dengan penduduk berjumlah 7.552.444 jiwa (2005). Bersama metropolitan Jabodetabek yang berpenduduk sekitar 23 juta jiwa, wilayah ini merupakan metropolitan terbesar di Indonesia atau urutan keenam dunia.
Kini wilayah Jabotabek telah terintegrasi dengan wilayah Bandung Raya, dimana mega-polis Jabodetabek-Bandung Raya mencakup sekitar 30 juta jiwa, yang menempatkan wilayah ini di urutan kedua dunia, setelah megapolis Tokyo.
Bang AU
SOSOK almarhum Ali Sadikin di mata warga Jakarta tidak hanya dikenal sebagai mantan Gubernur DKI Jakarta, tetapi berjasa besar dalam mengubah Jakarta dari sebuah "kampung besar" (big viilage) menjadi kota besar yang megah dan modern dengan berbagai proyek mercusuar pembangunan membanggakan mulai dari Taman Ismail Marzuki fTIM), proyek Senen,kota satelit Pluit, dan pencetus perayaan Jakarta Fair kini berubah menjadi Pekan Raya Jakarta (PRJ).
"Dengan pembangunan fisik dilakukan Bang Ali. Jakarta berubah dari kampung yang besar menjadi sebuah kota yang besar dan megah," kata Sekda DKI Jakarta ketika berziarah di makam Ali Sadikin, baru-baru ini dalam rangka HUT Jakarta.
Menurut Muhayat kegiatan ziarah ke makam pahlawan termasuk mantan Gubernur Ali Sadikin dihadiri sejumlah pejabat Pemprov DKI Jakarta dan Walikota Jaksel Syahrul Effendi, diharapkan semakin mengingatkan masyarakat terhadap jasa para pahlawan termasuk mantan gubernur yang sangat merakyat itu.
Mantan Gubernur DKI Jakarta AH Sadikin, wafat 21 Mei 2008 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir. Jaksel. Sebelum wafat, sosok Ali Sadikin pemimpin tegas dan dikenal memiliki prinsip dan karakter kuat. Tak heran di saat Bang Ali wafat, warga Jakarta merasa kehilangan.
Semasa hidup Ali Sadikin pernah menjabat sebagai Deputi II Panglima Angkatan Laut (1959-1963). Menteri Perhubungan Laut Kabinet Kerja (1963-1964). dan Menko Kompartemen Maritim/Menterl Perhubungan Laut Kabinet Dwikora dan Kabinet Dwikora yang disempurnakan (1964-1966). dan terakhir sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 1966-1977.
Jebolan Sekolah Tinggi Pelayaran Semarang (1945) dan US Marine Corps School Amerika Serikat ini juga merupakan orang pertama yang menerima Anugerah Cipta Utama dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).(naz/jon)
22 Jun 2010
* Hiburan
* Pelita
JAKARTA pertama kali dikenal sebagai salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda yang bernama Sunda Kelapa, berlokasi di muara Sungai Ciliwung. Ibukota Kerajaan Sunda yang dikenal sebagai Dayeuh Pakuan Pajajaran atau Pajajaran (sekarang Bogor) dapat ditempuh dari pelabuhan Sunda Kalapa selama dua hari perjalanan. Menurut sumber Portugis, Sunda Kalapa merupakan salah satu pelabuhan yang dimiliki Kerajaan Sunda selain pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara dan Cimanuk.
Sunda Kalapa yang dalam teks ini disebut Kalapa dianggap pelabuhan yang terpenting karena dapat ditempuh dari ibu kota kerajaan yang disebut dengan nama Dayo (dalam bahasa Sunda modem dayeuh yang berarti ibu kota) dalam tempo dua hari. Kerajaan Sunda sendiri merupakan kelanjutan dari Kerajaan Tarumanagara pada abad ke-5 sehingga pelabuhan ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-5 dan diperkirakan merupakan ibukota Tarumanagara yang disebut Sun-dapura.
Pada abad ke-12, pelabuhan ini dikenal sebagai pelabuhan lada yang sibuk. Kapal-kapal asing yang berasal dari Tiongkok, Jepapg, India Selatan, dan TimurTengah sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi komoditas dagang saat itu.
Orang Portugis merupakan" orang Eropa pertama yang datang ke Jakarta. Pada abad ke-16. Surawisesa, raja Sunda meminta bantuan Portugis yang ada di Malaka untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa sebagai perlindungan dari kemungkinan serangan Cirebon yang akan memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. Upaya permintaan bantuan Surawisesa kepada Portugis di Malaka tersebut diabadikan oleh orang Sunda dalam cerita pantun seloka Mundinglaya Dikusumah, dimana Surawisesa diselokakan dengan nama gelarnya yaitu Mundinglaya.
Namun sebelum pendirian benteng tersebut terlaksana. Cirebon yang dibantu Demak langsung menyerang .pelabuhan tersebut. Orang Sundamenyebut peristiwa Ini tragedi, karena penyerangan tersebut membumihanguskan kota pelabuhan tersebut dan membunuh banyak rakyat Sunda disana termasuk syahbandar pelabuhan.
Tatahillah
PENETAPAN hari jadi Jakarta tanggal 22 Juni adalah berdasarkan tragedi penak-lukan pelabuhan Sunda Kalapa oleh Fatahillah pada tahun 1527 dan mengganti nama kota tersebut menjadi Jayakarta yang berarti "kota kemenangan". Selanjutnya Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon, menyerahkan pemerintahan di Jayakarta kepada putranya-yaitu Sultan Maulana Hasanuddin yang menjadi sultan di Kesultanan Banten.
Orang Belanda datang ke Jayakarta sekitar akhir abad ke-16, setelah singgah di Banten pada tahun 1596. Jayakarta pada awal abat ke-17 diperintah oleh Pangeran Jayakarta, salah seorang kerabat Kesultanan Banten. Pada 1619, VOC dipimpin oleh Jan Pieters-zoon Coen menduduki Jayakarta setelah mengalahkan pasukan Kesultanan Banten dan kemudian mengubah namanya menjadi Batavia. Selama kolonialisasi Belanda, Batavia berkembang menjadi kota yang besar dan penting.
Untuk pembangunan kota. Belanda banyak mengimpor budak-budak sebagai pekerja. Kebanyakan dari mereka berasal dari Bali. Sulawesi. Maluku, Tiongkok, dan pesisir Malabar, India. Sebagian berpendapat bahwa mereka inilah yang kemudian membentuk komunitas yang dikenal dengan nama suku Betawi. Waktu itu luas Batavia hanya mencakup daerah yang saat ini dikenal sebagai Kota Tua di Jakarta Utara.
Sebelum kedatangan para budak tersebut, sudah ada masyarakat Sunda yang tinggal di wilayah Jayakarta seperti masyarakat Jatinegara Kaum. Sedangkan suku-suku dari etnis pendatang, pada zaman kolinfalisme Belanda, membentuk wilayah komunitasnya masing-masing karena taktik Belanda "divide et impera". Maka di Jakarta ada wilayah-wilayah bekas komunitas itu seperti Pecinan, Pekojan. Kampung Melayu. Kampung Bandan. Kampung Ambon. Kampung Bali, dan Manggarai.
Pada 1 Januari 1926 pemerintah Hindia Belanda membagi Pulau Jawa menjadi 3 provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur dimana Batavia dijadikan salah satu keresidenan dalam provinsi Jawa Barat disamping
Banten, Buitenzorg (Bogor), Priangan, dan Cirebon.
Pada tanggal 9 Oktober 1740, terjadi kerusuhan di Batavia dengan terbunuhnya 5.000 orang Tionghoa. Dengan terjadinya kerusuhan ini. banyak orang Tionghoa yang lari ke luar kota dan melakukan perlawanan terhadap Belanda. Dengan selesainya Koning-splein (Gambir) pada tahun 1818. Batavia berkembang ke arah selatan.
Tahun 1920 .Belanda membangun kota taman Menteng, dan wilayah ini menjadi tempatbaru bagi petinggi Belanda menggantikan Molenvliet di utara. Di awal abad ke-20. Batavia di utara, Koningspein. dan Mester Cornelis (Jatinegara) telah terintegrasi menjadi sebuah kota. Penjajahan oleh Jepangdimulai pada tahun 1942 dan mengganti nama Batavia menjadi Jakarta untuk menarik hati penduduk pada Perang Dunia II. Kota ini juga merupakan tempat dilangsungkannya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan diduduki Belanda sampai pengakuan kedaulatan tahun 1949.
Sejak dinyatakan sebagai ibukota, penduduk Jakarta melonjak sangat pesat akibat kebutuhan tenaga kerja kepemerintahan yang hampir semua terpusat di Jakarta.
Dalam waktu lima tahun penduduknya berlipat lebih dari dua. Berbagai kantung pemukiman kelas menengah baru kemudian berkembang, seperti Kebayoran Baru, Cempaka Putih. Rawamangun, dan Pejompongan. Pusat-pusatpemukiman juga banyak dibangun secara mandiri oleh berbagai kementerian dan institusi milik negara seperti Perum Perumnas.
Pada masa pemerintahan Soekarno, Jakarta melakukan pembangunan proyek besar, antara lain Gelora Bung Karno. Mesjid Istiqlal. dan Monumen Nasional. Pada masa ini pula Poros Medan Merdeka-Tham-rin-Sudlrman mulai dikembangkan sebagai pusat bisnis kota, menggantikan poros Medan Merdeka-Senen-Salem-ba-Jatinegara. Pusat pemukiman besar pertama yang dibuat oleh pihak pengembang swasta adalah Pondok Indah (oleh PT Pembangunan Jaya) pada akhir dekade 1970-an di wilayah Jakarta Selatan.
Jakarta memiliki luas sekitar 661.52 km2 (lautan 6.977.5 km2), dengan penduduk berjumlah 7.552.444 jiwa (2005). Bersama metropolitan Jabodetabek yang berpenduduk sekitar 23 juta jiwa, wilayah ini merupakan metropolitan terbesar di Indonesia atau urutan keenam dunia.
Kini wilayah Jabotabek telah terintegrasi dengan wilayah Bandung Raya, dimana mega-polis Jabodetabek-Bandung Raya mencakup sekitar 30 juta jiwa, yang menempatkan wilayah ini di urutan kedua dunia, setelah megapolis Tokyo.
Bang AU
SOSOK almarhum Ali Sadikin di mata warga Jakarta tidak hanya dikenal sebagai mantan Gubernur DKI Jakarta, tetapi berjasa besar dalam mengubah Jakarta dari sebuah "kampung besar" (big viilage) menjadi kota besar yang megah dan modern dengan berbagai proyek mercusuar pembangunan membanggakan mulai dari Taman Ismail Marzuki fTIM), proyek Senen,kota satelit Pluit, dan pencetus perayaan Jakarta Fair kini berubah menjadi Pekan Raya Jakarta (PRJ).
"Dengan pembangunan fisik dilakukan Bang Ali. Jakarta berubah dari kampung yang besar menjadi sebuah kota yang besar dan megah," kata Sekda DKI Jakarta ketika berziarah di makam Ali Sadikin, baru-baru ini dalam rangka HUT Jakarta.
Menurut Muhayat kegiatan ziarah ke makam pahlawan termasuk mantan Gubernur Ali Sadikin dihadiri sejumlah pejabat Pemprov DKI Jakarta dan Walikota Jaksel Syahrul Effendi, diharapkan semakin mengingatkan masyarakat terhadap jasa para pahlawan termasuk mantan gubernur yang sangat merakyat itu.
Mantan Gubernur DKI Jakarta AH Sadikin, wafat 21 Mei 2008 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir. Jaksel. Sebelum wafat, sosok Ali Sadikin pemimpin tegas dan dikenal memiliki prinsip dan karakter kuat. Tak heran di saat Bang Ali wafat, warga Jakarta merasa kehilangan.
Semasa hidup Ali Sadikin pernah menjabat sebagai Deputi II Panglima Angkatan Laut (1959-1963). Menteri Perhubungan Laut Kabinet Kerja (1963-1964). dan Menko Kompartemen Maritim/Menterl Perhubungan Laut Kabinet Dwikora dan Kabinet Dwikora yang disempurnakan (1964-1966). dan terakhir sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 1966-1977.
Jebolan Sekolah Tinggi Pelayaran Semarang (1945) dan US Marine Corps School Amerika Serikat ini juga merupakan orang pertama yang menerima Anugerah Cipta Utama dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).(naz/jon)
Konsisten Perangi Kemiskinan dan Kebodohan By redaksi
Konsisten Perangi Kemiskinan dan Kebodohan
By redaksi
Selasa, 22-Juni-2010, 08:06:55 46 clicks Send this story to a friend Printable Version
SERANG – Sekretaris Jenderal Paguyuban Pasundan Prof Dr M Didi Turmudji mengatakan, meski lahir di tanah Sunda, namun keberadaan Paguyuban Pasundan merupakan gerakan untuk memupuk kebersamaan dan rasa nasionalisme, bukan organisasi kedaerahan.
Didi Mencontohkan, salah satu pendiri Paguyuban Pasundan adalah Daeng Kandoeroean Ardiwinata yang merupakan keturunan Sulawesi yang menikah dengan keturunan Sunda. “Paguyuban Pasundan lahir untuk kebersamaan dan keberadaan kami untuk membesarkan Indonesia dan bagaimana memerangi kemiskinan dan kebodohan,” kata Didi saat bersilaturahim ke Redaksi Radar Banten, Senin (21/6).
Rektor Universitas Pasundan berkunjung bersama Ketua Panitia Kongres ke-41 Paguyuban Pasundan M Budiana, Koordinator Wilayah Paguyuban Pasundan Banten, Aman Sukarso, dan Sekretaris Koordinator Wilayah Paguyuban Pasundan Banten Heri Erlangga. Mereka diterima Pemimpin Redaksi Mashudi, Redaktur Pelaksana Ahmad Lutfi, dan Koordinator Liputan Aas Ahmad Arbi Syahrostani.
Upaya memerangi kebodohan dan kemiskinan, kata Didi, akan menjadi konsentrasi program yang akan dibicarakan pada Kongres Paguyuban Pasundan ke-41, 26-28 Juli 2010 di Hotel Sol Elite Marbella, Anyer, Kabupaten Serang. Pada kongres tersebut, kata dia, Paguyuban Pasundan akan merajut kebersamaan memerangi kebodohan dan kembali pada basis pemberdayaan masyarakat yang menyentuh kesejahteraan sosial.
Ketua Panitia Kongres Paguyuban Pasundan M Budiana menambahkan, Paguyuban Pasundan memiliki 104 lembaga pendidikan, mulai dari lembaga pendidikan tinggi, menengah, dan dasar. “Kami memiliki empat perguruan tinggi yang jumlah mahasiswa aktif mencapai 16 ribu,” ujarnya.
Budi mengungkapkan, pada kongres nanti akan hadir sekitar 600 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia dan luar negeri. “Mudah-mudahan, dua gubernur yaitu Gubernur Banten (Ratu Atut Chosiyah-red) dan Gubernur Jawa Barat (Ahmad Heryawan-red) dapat hadir pada saat pembukaan kongres nanti. Gubernur Jakarta Fauzi Bowo juga diundang,” ujarnya.
Koordinator Wilayah Paguyuban Pasundan Banten Aman Sukarso mengaku bangga Banten dijadikan lokasi kongres. “Kami cukup bahagia dan mudah-mudahan akan memacu Paguyuban Pasundan di Banten untuk meningkatkan kiprahnya memerangi kebodohan dan kemiskinan,” ujarnya.
Pemimpin Redaksi Radar Banten Mashudi menyambut baik kunjungan pengurus Paguyuban Pasundan . Kata Mashudi, meski menyandang nama Pasundan, ternyata Paguyuban Pasundan telah menjadi organisasi modern dan besar. “Apalagi tujuannya sangat mulia memerangi kebodohan dan kemiskinan. Pelaksanaan kongres nanti, kami siap bermitra,” ujarnya.(run/yes)
By redaksi
Selasa, 22-Juni-2010, 08:06:55 46 clicks Send this story to a friend Printable Version
SERANG – Sekretaris Jenderal Paguyuban Pasundan Prof Dr M Didi Turmudji mengatakan, meski lahir di tanah Sunda, namun keberadaan Paguyuban Pasundan merupakan gerakan untuk memupuk kebersamaan dan rasa nasionalisme, bukan organisasi kedaerahan.
Didi Mencontohkan, salah satu pendiri Paguyuban Pasundan adalah Daeng Kandoeroean Ardiwinata yang merupakan keturunan Sulawesi yang menikah dengan keturunan Sunda. “Paguyuban Pasundan lahir untuk kebersamaan dan keberadaan kami untuk membesarkan Indonesia dan bagaimana memerangi kemiskinan dan kebodohan,” kata Didi saat bersilaturahim ke Redaksi Radar Banten, Senin (21/6).
Rektor Universitas Pasundan berkunjung bersama Ketua Panitia Kongres ke-41 Paguyuban Pasundan M Budiana, Koordinator Wilayah Paguyuban Pasundan Banten, Aman Sukarso, dan Sekretaris Koordinator Wilayah Paguyuban Pasundan Banten Heri Erlangga. Mereka diterima Pemimpin Redaksi Mashudi, Redaktur Pelaksana Ahmad Lutfi, dan Koordinator Liputan Aas Ahmad Arbi Syahrostani.
Upaya memerangi kebodohan dan kemiskinan, kata Didi, akan menjadi konsentrasi program yang akan dibicarakan pada Kongres Paguyuban Pasundan ke-41, 26-28 Juli 2010 di Hotel Sol Elite Marbella, Anyer, Kabupaten Serang. Pada kongres tersebut, kata dia, Paguyuban Pasundan akan merajut kebersamaan memerangi kebodohan dan kembali pada basis pemberdayaan masyarakat yang menyentuh kesejahteraan sosial.
Ketua Panitia Kongres Paguyuban Pasundan M Budiana menambahkan, Paguyuban Pasundan memiliki 104 lembaga pendidikan, mulai dari lembaga pendidikan tinggi, menengah, dan dasar. “Kami memiliki empat perguruan tinggi yang jumlah mahasiswa aktif mencapai 16 ribu,” ujarnya.
Budi mengungkapkan, pada kongres nanti akan hadir sekitar 600 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia dan luar negeri. “Mudah-mudahan, dua gubernur yaitu Gubernur Banten (Ratu Atut Chosiyah-red) dan Gubernur Jawa Barat (Ahmad Heryawan-red) dapat hadir pada saat pembukaan kongres nanti. Gubernur Jakarta Fauzi Bowo juga diundang,” ujarnya.
Koordinator Wilayah Paguyuban Pasundan Banten Aman Sukarso mengaku bangga Banten dijadikan lokasi kongres. “Kami cukup bahagia dan mudah-mudahan akan memacu Paguyuban Pasundan di Banten untuk meningkatkan kiprahnya memerangi kebodohan dan kemiskinan,” ujarnya.
Pemimpin Redaksi Radar Banten Mashudi menyambut baik kunjungan pengurus Paguyuban Pasundan . Kata Mashudi, meski menyandang nama Pasundan, ternyata Paguyuban Pasundan telah menjadi organisasi modern dan besar. “Apalagi tujuannya sangat mulia memerangi kebodohan dan kemiskinan. Pelaksanaan kongres nanti, kami siap bermitra,” ujarnya.(run/yes)
Fauzi Bowo Perhatian Terhadapa Budaya Sunda Yang Baku Dan Bali Menjabat Menteri Yang Dimiliki Jogja Dan Lain-Lain Nama Ir Yang Digelar Rabu
Maklum, ia tidak disibukkan mengurus kegiatan-kegiatan lain yang
cukup menyita waktu, sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta
(1972-1981), Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Direktur
Penerbit Dunia Pustaka Jaya, maupun Pemimpin Redaksi Majalah
Kebudayaan Budaya Jaya (1968-1979). Hasilnya, lebih dari 50 judul
buku dalam bahasa Indonesia dan Sunda ditulisnya selama di
Jepang.
Satu hal yang mengesankan Ajip tentang masyarakat Jepang
adalah kesadaran mereka akan pentingnya sastra dalam hidup
mereka. Menurut Ajip, sastra tidak hanya menjadi bahan konsumsi
para sastrawan atau budayawan, tetapi juga telah menjadi bahan
bacaan para dokter atau arsitektur.
Kondisi itu tercipta akibat dukungan kebijakan pemerintah dan
budaya yang ada. Ajip mengatakan, masyarakat Jepang sejak usia
dini telah diperkenalkan dengan buku. "Anak kecil sejak umur dua
hingga tiga tahun sudah diperkenalkan dengan buku."
Kondisi perbukuan di Jepang juga mendukung terciptanya suasana
itu. Harga buku di sana ditetapkan sama di semua wilayah. " Harga
majalah juga sama," katanya.
Pendidikan juga lebih tertata rapi, tinggal melanjutkan tradisi yang
sudah berkembang. Tradisi itu mulai tertancap sejak reformasi Meiji.
Reformasi yang ditandai dengan pengiriman orang-orang Jepang
ke negara-negara maju untuk belajar banyak hal.
Selain itu, juga dilakukan penerjemahan besar-besaran berbagai
macam ilmu, karya budaya, dan karya sastra ke dalam bahasa
Jepang. "Jadi, orang Jepang, walaupun tidak bisa bahasa asing,
misalnya, mereka mengetahui (dan) menguasai ilmu-ilmu di negara-
negara asing," kata Ajip.
Semua itu dilakukan bangsa Jepang dengan penuh semangat dan
keseriusan. Seorang profesor asal Amerika Serikat yang mengajar
bahasa Inggris di Jepang bercerita kepada Ajip, ada seorang
mahasiswanya belajar dengan menghafal kamus bahasa Inggris.
Orang Jepang memang dikenal sebagai bangsa yang amat bangga
dengan bahasanya sendiri, tetapi hal itu tidak membuat mereka
antibahasa asing. Minat orang Jepang terhadap studi-studi
Indonesia juga cukup kuat. Jurusan Bahasa Indonesia (Indoneshia-
go Gakuka) sudah ada di Tokyo Gaikokugo Daigaku sejak tahun
1949.
Selama mengajar di Jepang, Ajip tidak pernah kekurangan
mahasiswa. Di Osaka Gaidai, ia mengajar rata-rata 30 mahasiswa
setiap tahun, 40 mahasiswa di Kyoto Sangyo Daigaku, dan 60
mahasiswa di Tenri Daigaku. "Saya mengajar bahasa Indonesia, sastra Indonesia, budaya
Indonesia, dan Islam di Indonesia," kata Ajip. Beberapa muridnya
kini sudah menjadi presiden direktur dan manajer pada
perusahaan-perusahaan Jepang di Indonesia.
Namun, Ajip mencatat, tingginya gairah dan minat mereka terhadap
bahasa asing bergantung pada kepentingan terhadap negara yang
dipelajari itu. Ketika perekonomian Indonesia berkembang,
perhatian orang Jepang terhadap bahasa Indonesia meningkat.
"Sekarang Indonesia ambruk, perhatian juga berkurang. Ada
beberapa universitas yang tadinya punya jurusan bahasa
Indonesia, sekarang dan diganti dengan Cina," katanya Aji
cukup menyita waktu, sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta
(1972-1981), Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Direktur
Penerbit Dunia Pustaka Jaya, maupun Pemimpin Redaksi Majalah
Kebudayaan Budaya Jaya (1968-1979). Hasilnya, lebih dari 50 judul
buku dalam bahasa Indonesia dan Sunda ditulisnya selama di
Jepang.
Satu hal yang mengesankan Ajip tentang masyarakat Jepang
adalah kesadaran mereka akan pentingnya sastra dalam hidup
mereka. Menurut Ajip, sastra tidak hanya menjadi bahan konsumsi
para sastrawan atau budayawan, tetapi juga telah menjadi bahan
bacaan para dokter atau arsitektur.
Kondisi itu tercipta akibat dukungan kebijakan pemerintah dan
budaya yang ada. Ajip mengatakan, masyarakat Jepang sejak usia
dini telah diperkenalkan dengan buku. "Anak kecil sejak umur dua
hingga tiga tahun sudah diperkenalkan dengan buku."
Kondisi perbukuan di Jepang juga mendukung terciptanya suasana
itu. Harga buku di sana ditetapkan sama di semua wilayah. " Harga
majalah juga sama," katanya.
Pendidikan juga lebih tertata rapi, tinggal melanjutkan tradisi yang
sudah berkembang. Tradisi itu mulai tertancap sejak reformasi Meiji.
Reformasi yang ditandai dengan pengiriman orang-orang Jepang
ke negara-negara maju untuk belajar banyak hal.
Selain itu, juga dilakukan penerjemahan besar-besaran berbagai
macam ilmu, karya budaya, dan karya sastra ke dalam bahasa
Jepang. "Jadi, orang Jepang, walaupun tidak bisa bahasa asing,
misalnya, mereka mengetahui (dan) menguasai ilmu-ilmu di negara-
negara asing," kata Ajip.
Semua itu dilakukan bangsa Jepang dengan penuh semangat dan
keseriusan. Seorang profesor asal Amerika Serikat yang mengajar
bahasa Inggris di Jepang bercerita kepada Ajip, ada seorang
mahasiswanya belajar dengan menghafal kamus bahasa Inggris.
Orang Jepang memang dikenal sebagai bangsa yang amat bangga
dengan bahasanya sendiri, tetapi hal itu tidak membuat mereka
antibahasa asing. Minat orang Jepang terhadap studi-studi
Indonesia juga cukup kuat. Jurusan Bahasa Indonesia (Indoneshia-
go Gakuka) sudah ada di Tokyo Gaikokugo Daigaku sejak tahun
1949.
Selama mengajar di Jepang, Ajip tidak pernah kekurangan
mahasiswa. Di Osaka Gaidai, ia mengajar rata-rata 30 mahasiswa
setiap tahun, 40 mahasiswa di Kyoto Sangyo Daigaku, dan 60
mahasiswa di Tenri Daigaku. "Saya mengajar bahasa Indonesia, sastra Indonesia, budaya
Indonesia, dan Islam di Indonesia," kata Ajip. Beberapa muridnya
kini sudah menjadi presiden direktur dan manajer pada
perusahaan-perusahaan Jepang di Indonesia.
Namun, Ajip mencatat, tingginya gairah dan minat mereka terhadap
bahasa asing bergantung pada kepentingan terhadap negara yang
dipelajari itu. Ketika perekonomian Indonesia berkembang,
perhatian orang Jepang terhadap bahasa Indonesia meningkat.
"Sekarang Indonesia ambruk, perhatian juga berkurang. Ada
beberapa universitas yang tadinya punya jurusan bahasa
Indonesia, sekarang dan diganti dengan Cina," katanya Aji
Sosok Sastrawan dan Budayawan Paripurna
Sosok Ajip Rosidi di mata rekan-rekannya sesama pencinta sastra
dan kebudayaan merupakan sosok yang lengkap, paripurna. Selain
dikenal sebagai sastrawan Sunda, Ajip juga dikenal sebagai sosok
yang memperkaya sastra Indonesia dan memperkenalkan
kebudayaan Sunda di dunia internasional. Ketua Yayasan
Kebudayaan Rancage itu juga dinilai sebagai sosok yang bisa
melepaskan diri dari kecenderungan polarisasi dalam banyak hal.
Salah satunya, polarisasi antara kebudayaan modern dan
kebudayaan tradisional.
Pulang dari Jepang, setelah tinggal di sana selama 22 tahun, Ajip Rosidi merasa gamang. Kegamangan itu dipicu oleh kekhawatiran adanya "pengultusan" terhadap dirinya. Juga kegamangan akan nasib budaya tradisional yang terus terlindas oleh budaya global.
"Saya merasa ngeri karena saya mendapat kesan bahwa saya
hendak dikultuskan sehingga timbul pikiran menciptakan Ajip-Ajip
baru. Saya ngeri karena saya khawatir hal itu menimbulkan rasa
takabur," katanya.
Suara batin itu diungkapkan Ajip Rosidi di hadapan para pencinta
sastra, termasuk para pengagumnya, pada seminar di Universitas
Padjadjaran, Bandung, yang khusus membedah kiprahnya di dunia
sastra, Rabu (28/5/03).
Hampir semua yang hadir memuji semangat dan dedikasi
sastrawan kelahiran Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari
1938, itu. Pengamat sastra Dr Faruk HT, misalnya, secara implisit
memosisikan Ajip sebagai "orang langka" dengan kelebihan yang
tidak dimiliki HB Jassin, Goenawan Mohamad, dan Soebagio
Sastrowardoyo.
Ajip dinilai sebagai sosok yang bisa melepaskan diri dari
kecenderungan polarisasi dalam banyak hal. Salah satunya,
polarisasi antara kebudayaan modern dan kebudayaan tradisional.
Ketika kebudayaan modern dianggap sebagai pilihan yang niscaya,
kata Faruk, Ajip malah getol berbicara tentang kebudayaan
tradisional.
Redaktur PN Balai Pustaka (1955-1956) itu dikenal sangat taat
asas (konsisten) mengembangkan kebudayaan daerah. Terbukti,
Hadiah Sastra Rancage-penghargaan untuk karya sastra Sunda,
Jawa, dan Bali-masih rutin dikeluarkan setiap tahun sejak pertama
kali diluncurkan tahun 1988.
dan kebudayaan merupakan sosok yang lengkap, paripurna. Selain
dikenal sebagai sastrawan Sunda, Ajip juga dikenal sebagai sosok
yang memperkaya sastra Indonesia dan memperkenalkan
kebudayaan Sunda di dunia internasional. Ketua Yayasan
Kebudayaan Rancage itu juga dinilai sebagai sosok yang bisa
melepaskan diri dari kecenderungan polarisasi dalam banyak hal.
Salah satunya, polarisasi antara kebudayaan modern dan
kebudayaan tradisional.
Pulang dari Jepang, setelah tinggal di sana selama 22 tahun, Ajip Rosidi merasa gamang. Kegamangan itu dipicu oleh kekhawatiran adanya "pengultusan" terhadap dirinya. Juga kegamangan akan nasib budaya tradisional yang terus terlindas oleh budaya global.
"Saya merasa ngeri karena saya mendapat kesan bahwa saya
hendak dikultuskan sehingga timbul pikiran menciptakan Ajip-Ajip
baru. Saya ngeri karena saya khawatir hal itu menimbulkan rasa
takabur," katanya.
Suara batin itu diungkapkan Ajip Rosidi di hadapan para pencinta
sastra, termasuk para pengagumnya, pada seminar di Universitas
Padjadjaran, Bandung, yang khusus membedah kiprahnya di dunia
sastra, Rabu (28/5/03).
Hampir semua yang hadir memuji semangat dan dedikasi
sastrawan kelahiran Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari
1938, itu. Pengamat sastra Dr Faruk HT, misalnya, secara implisit
memosisikan Ajip sebagai "orang langka" dengan kelebihan yang
tidak dimiliki HB Jassin, Goenawan Mohamad, dan Soebagio
Sastrowardoyo.
Ajip dinilai sebagai sosok yang bisa melepaskan diri dari
kecenderungan polarisasi dalam banyak hal. Salah satunya,
polarisasi antara kebudayaan modern dan kebudayaan tradisional.
Ketika kebudayaan modern dianggap sebagai pilihan yang niscaya,
kata Faruk, Ajip malah getol berbicara tentang kebudayaan
tradisional.
Redaktur PN Balai Pustaka (1955-1956) itu dikenal sangat taat
asas (konsisten) mengembangkan kebudayaan daerah. Terbukti,
Hadiah Sastra Rancage-penghargaan untuk karya sastra Sunda,
Jawa, dan Bali-masih rutin dikeluarkan setiap tahun sejak pertama
kali diluncurkan tahun 1988.
Agama jeung Kapercayaan Sunda Asli Jumat, 26 Juni 2009
Sumber: http://www.urangsunda.net/
Mang Jamal
Nu ngagem:
Urang Sunda Kanekes (ngaran topna: Baduy).
Kanekes teh ngaran hiji tempat di Banten.
Ngaran Agama & Kapercayaan:
Sunda Wiwitan. Wiwitan teh hartina mimiti, asal, poko, jati.
Ngaran sejen: Sunda Asli, Jatisunda (jati, sanes mahoni)
Ngaran Pangeran:
Sang Hiyang Keresa (Nu Maha Kuasa), Nu ngersakeun (Yang Maha Menghendaki).
Sebutan sejen:
Batara Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa),
Batara Jagat (Tuhan Penguasa Alam)
Batara Seda Niskala (Tuhan Yang Maha Gaib)
Tempat Pangeran:
Buana Nyungcung
Kabeh dewa dina konsep agama Hindu (Brahmana, Syiwa, Wisnu, Indra, Yama,jrrd) tunduk ka Batara Seda Niskala.
Konsep Alam ceuk ‘mitologi’ atawa ‘kosmologi’ urang Kanekes aya tilu:
1.Buana Nyungcung, tempat linggih Sang Hiyang Keresa, pangluhurna
2.Buana Panca Tengah, tempat jelema, sato, tatangkalan (kaasup tangkal jengkol jeung peuteuy) jeung sadaya mahluk sejena (sireum, tongo, tumbila,jeung sajabana)
3.Buana Larang , naraka. Panghandapna.
Antara Buana Nyungcung jeung Buana Panca Tengah, aya 18 lapisan (langit tea meureun). Lapisan pangluhurna, ngarana Buana Suci Alam Padang, nu ceuk koropak 630 (sigana nomer lomari paranti nunda naskah kuno di Arsip Nasional Jakarta) disebut Alam Kahiyangan atawa Mandala Hiyang, tempat linggihna Nyi Pohaci Sanghiyang Asri jeung Sunan Ambu. (Sunan Ambu ieu ayeuna dijadikeun ngaran gedong teater di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung (STSI) Buah Batu.
Sang Hiyang Keresa nurunkeun tujuh batara di Sasaka Pusaka Buana. Nu pangkolotna, Batara Cikal, dianggap karuhun urang Kanekes (Baduy).
Turunan batara sejenna marentah di daerah Karang, Jampang, Sajra, Jasinga, Bongbang, Banten.
Kapangaruhan Hindu Saeutik Mun noong ngaran2 batara (‘utusan’ Sang Hiyang Keresa: Wisawara, Wisnu, Brahma), tetela aya pangaruh ti Hindu kana ieu sistem kapercayaan urang Kanekes. Tapi kapercayaan Urang Kanekes ieu lain Hindu.
Buana Panca Tengah
Ieu wilayah jelema jeung mahluk sejenna, dibagi numutkeun tingkat kasucianana:
1.Sasaka Pusaka Buana, dianggap paling suci, ampir ngarendeng jeung Sasaka Domas (atawa Salaka Domas). Ieu pusat dunya.
2.Kampung Jero, Pusat lingkungan Desa Kanekes
3.Kampung Luar/panamping/penyangga/bumper, Desa Kanekes, jadi pusat Banten
4.Banten, jadi pusat Sunda
5.Tanah Sunda
6.Luar Tanah Sunda
Aturan Hirup:
Titahan jeung Pamali (basa urang dinya, Buyut) ti karuhun. Kabuyutan, tempat nu ngandung rupa-rupa pamali. (Teu meunang anu, teu meunang anu tea….)
Ritual/Upacara:
ngukus,
muja,
ngawalu,
ngalaksa.
Muja
Muja diayakeun di Sasaka Pusaka Buana jeung Sasaka Domas dina waktu nu beda. Di Sasaka Pusaka Buana sataun sakali, lilana tilu poe, tiap tanggal 16, 17, 18 bulan Kawolu (bulan kalima numutkeun sistim kalender Urang Kanekes. US boga sistem kalender sorangan tah!). Muja dipingpin ku Puun (sigana sarupaning kepala adat) Cikeusik, jeung jalma2 kapercayaanana (baris kolot-sesepuh meureun). Poe kahiji, rombongan upacara angkat ka ranggon (Talahab- saung). Ngendong di dinya. Isukna, mandi jeung karamas, terus angkat ka ka Sasaka Pusaka Buana ti arah kaler. Upacara muja dilakukeun di undakan kahiji, ngadep ka pasir/bukit SPB, nepi ka tengah poe. Terus mersihan salira, bari memeres palataran undakan. Beres kitu, ngumbah leungeun jeung suku ti batu Sang Hiyang Pangumbahan. Terus naek ka puncak pasir/bukit. Di dinya rombongan ngala lukut nu napel dina batu. Lukut (lumut) eta disebut komala (permata), dibawa mulang jeung dipercaya bisa ngadatangkeun berkah jang nu merlukeun.
Buyut/Pamali
Aya dua jinis:
1.Buyut Adam Tunggal, pamali nalian urang Tangtu (warga kampung jero).
Buyut ieu pamali nu nalian hal poko jeung nu sejenna/rinci
2.Buyut Nuhun, pamali nu berlaku jang orang Panamping jeung Dangka (warga Kanekes Luar).
Buyut ieu mah ngan jang nu poko. Jadi nu di Panamping atawa Dangka kaci dilakukeun, tapi di daerah Tangtu/Kampung Jero mah teu kaci.
Pamali bin buyut ieu ngandung udagan:
a.melindungi kasucian jeung kamurnian suka manusa
b.melindungi kamurnian mandala/tempat cicing
c.melindungi tradisi
Buyut atawa pamali (tabu) diayakeun bisa jadi jang melindungi mandala Kanekes, karena ti samet Karajaan Sunda ancur (1579 Masehi), teu aya deui karajaan nu ngalindungi. Malah sok aya pertentangan kapentingan antara urang Kanekes jeung Kasultanan Banten oge pamarentah kolonial. Tah, ceunah, cara jang melindungi diri sendiri teh make eta pamali atawa buyut!
Teu kawasa, ucapan nu kaluar mun kudu ngarempak buyut.
Hukuman atawa sanksi jang nu ngarempag buyut:
dikaluarkeun/dipiceun/ditamping ti lingkungan asal dina jangka waktu nu tangtu, biasana 40 poe. Upacara pelaksanaan hukuman disebut Panyapuan.
Konsep Daur Hirup
Sukma atawa roh jelema asalna ti Kahiyangan, mun hirup di Buana Panca Tengah angges, sukma balik deui ka Kahiyangan (ngahiyang tea meureun!).
Waktu sukma turun ti Kahiyangan ka Buana Panca Tengah, kondisina rahayu, alus, balik oge kudu kitu. Mun henteu beresih tapi kotor alatan loba buyut/pamali nu dirempag, nya ka naraka. Alus gorengna sukma waktu rek mulang gumantung kana amal perbuatan di Buana Panca Tengah saluyu jeung tugas hidup masing2. Dina raraga mancen tugas, sukma dibekelan 10 indra. Enyaan, sapuluh, lain salah nulis!
-------------------------
Catetan:
Meunang niron ti Edi S. Ekadjati, Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah), Pustaka Jaya, 1995. (Bukuna meunang nginjem ti Arie Kusuma Argadipa, urut mahasiswa si kuring, teu kaburu dibalikeun, da si eta na geus lulus manten, hehe…)
Mang Jamal
Nu ngagem:
Urang Sunda Kanekes (ngaran topna: Baduy).
Kanekes teh ngaran hiji tempat di Banten.
Ngaran Agama & Kapercayaan:
Sunda Wiwitan. Wiwitan teh hartina mimiti, asal, poko, jati.
Ngaran sejen: Sunda Asli, Jatisunda (jati, sanes mahoni)
Ngaran Pangeran:
Sang Hiyang Keresa (Nu Maha Kuasa), Nu ngersakeun (Yang Maha Menghendaki).
Sebutan sejen:
Batara Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa),
Batara Jagat (Tuhan Penguasa Alam)
Batara Seda Niskala (Tuhan Yang Maha Gaib)
Tempat Pangeran:
Buana Nyungcung
Kabeh dewa dina konsep agama Hindu (Brahmana, Syiwa, Wisnu, Indra, Yama,jrrd) tunduk ka Batara Seda Niskala.
Konsep Alam ceuk ‘mitologi’ atawa ‘kosmologi’ urang Kanekes aya tilu:
1.Buana Nyungcung, tempat linggih Sang Hiyang Keresa, pangluhurna
2.Buana Panca Tengah, tempat jelema, sato, tatangkalan (kaasup tangkal jengkol jeung peuteuy) jeung sadaya mahluk sejena (sireum, tongo, tumbila,jeung sajabana)
3.Buana Larang , naraka. Panghandapna.
Antara Buana Nyungcung jeung Buana Panca Tengah, aya 18 lapisan (langit tea meureun). Lapisan pangluhurna, ngarana Buana Suci Alam Padang, nu ceuk koropak 630 (sigana nomer lomari paranti nunda naskah kuno di Arsip Nasional Jakarta) disebut Alam Kahiyangan atawa Mandala Hiyang, tempat linggihna Nyi Pohaci Sanghiyang Asri jeung Sunan Ambu. (Sunan Ambu ieu ayeuna dijadikeun ngaran gedong teater di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung (STSI) Buah Batu.
Sang Hiyang Keresa nurunkeun tujuh batara di Sasaka Pusaka Buana. Nu pangkolotna, Batara Cikal, dianggap karuhun urang Kanekes (Baduy).
Turunan batara sejenna marentah di daerah Karang, Jampang, Sajra, Jasinga, Bongbang, Banten.
Kapangaruhan Hindu Saeutik Mun noong ngaran2 batara (‘utusan’ Sang Hiyang Keresa: Wisawara, Wisnu, Brahma), tetela aya pangaruh ti Hindu kana ieu sistem kapercayaan urang Kanekes. Tapi kapercayaan Urang Kanekes ieu lain Hindu.
Buana Panca Tengah
Ieu wilayah jelema jeung mahluk sejenna, dibagi numutkeun tingkat kasucianana:
1.Sasaka Pusaka Buana, dianggap paling suci, ampir ngarendeng jeung Sasaka Domas (atawa Salaka Domas). Ieu pusat dunya.
2.Kampung Jero, Pusat lingkungan Desa Kanekes
3.Kampung Luar/panamping/penyangga/bumper, Desa Kanekes, jadi pusat Banten
4.Banten, jadi pusat Sunda
5.Tanah Sunda
6.Luar Tanah Sunda
Aturan Hirup:
Titahan jeung Pamali (basa urang dinya, Buyut) ti karuhun. Kabuyutan, tempat nu ngandung rupa-rupa pamali. (Teu meunang anu, teu meunang anu tea….)
Ritual/Upacara:
ngukus,
muja,
ngawalu,
ngalaksa.
Muja
Muja diayakeun di Sasaka Pusaka Buana jeung Sasaka Domas dina waktu nu beda. Di Sasaka Pusaka Buana sataun sakali, lilana tilu poe, tiap tanggal 16, 17, 18 bulan Kawolu (bulan kalima numutkeun sistim kalender Urang Kanekes. US boga sistem kalender sorangan tah!). Muja dipingpin ku Puun (sigana sarupaning kepala adat) Cikeusik, jeung jalma2 kapercayaanana (baris kolot-sesepuh meureun). Poe kahiji, rombongan upacara angkat ka ranggon (Talahab- saung). Ngendong di dinya. Isukna, mandi jeung karamas, terus angkat ka ka Sasaka Pusaka Buana ti arah kaler. Upacara muja dilakukeun di undakan kahiji, ngadep ka pasir/bukit SPB, nepi ka tengah poe. Terus mersihan salira, bari memeres palataran undakan. Beres kitu, ngumbah leungeun jeung suku ti batu Sang Hiyang Pangumbahan. Terus naek ka puncak pasir/bukit. Di dinya rombongan ngala lukut nu napel dina batu. Lukut (lumut) eta disebut komala (permata), dibawa mulang jeung dipercaya bisa ngadatangkeun berkah jang nu merlukeun.
Buyut/Pamali
Aya dua jinis:
1.Buyut Adam Tunggal, pamali nalian urang Tangtu (warga kampung jero).
Buyut ieu pamali nu nalian hal poko jeung nu sejenna/rinci
2.Buyut Nuhun, pamali nu berlaku jang orang Panamping jeung Dangka (warga Kanekes Luar).
Buyut ieu mah ngan jang nu poko. Jadi nu di Panamping atawa Dangka kaci dilakukeun, tapi di daerah Tangtu/Kampung Jero mah teu kaci.
Pamali bin buyut ieu ngandung udagan:
a.melindungi kasucian jeung kamurnian suka manusa
b.melindungi kamurnian mandala/tempat cicing
c.melindungi tradisi
Buyut atawa pamali (tabu) diayakeun bisa jadi jang melindungi mandala Kanekes, karena ti samet Karajaan Sunda ancur (1579 Masehi), teu aya deui karajaan nu ngalindungi. Malah sok aya pertentangan kapentingan antara urang Kanekes jeung Kasultanan Banten oge pamarentah kolonial. Tah, ceunah, cara jang melindungi diri sendiri teh make eta pamali atawa buyut!
Teu kawasa, ucapan nu kaluar mun kudu ngarempak buyut.
Hukuman atawa sanksi jang nu ngarempag buyut:
dikaluarkeun/dipiceun/ditamping ti lingkungan asal dina jangka waktu nu tangtu, biasana 40 poe. Upacara pelaksanaan hukuman disebut Panyapuan.
Konsep Daur Hirup
Sukma atawa roh jelema asalna ti Kahiyangan, mun hirup di Buana Panca Tengah angges, sukma balik deui ka Kahiyangan (ngahiyang tea meureun!).
Waktu sukma turun ti Kahiyangan ka Buana Panca Tengah, kondisina rahayu, alus, balik oge kudu kitu. Mun henteu beresih tapi kotor alatan loba buyut/pamali nu dirempag, nya ka naraka. Alus gorengna sukma waktu rek mulang gumantung kana amal perbuatan di Buana Panca Tengah saluyu jeung tugas hidup masing2. Dina raraga mancen tugas, sukma dibekelan 10 indra. Enyaan, sapuluh, lain salah nulis!
-------------------------
Catetan:
Meunang niron ti Edi S. Ekadjati, Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah), Pustaka Jaya, 1995. (Bukuna meunang nginjem ti Arie Kusuma Argadipa, urut mahasiswa si kuring, teu kaburu dibalikeun, da si eta na geus lulus manten, hehe…)
Tata Krama Basa Sunda Selasa, 27 Oktober 2009
Sumber: http://www.forumbebas.com/thread-22674.html
Oleh: PLAN (nami samaran)
Nurutkeun panalungtikan Tatakrama Basa Sunda atawa sok disebut oge UNDAK USUK BASA SUNDA (UUBS) teh wangunna saperti kieu:
I. RAGAM BASA HORMAT (BASA LEMES)
Dina hakekatna digunakeunana ragam hormat teh taya lian pikeun nembongkeun rasa hormat ti nu nyarita ka nu diajak nyarita jeung ka saha nu dicaritakeunana. Ragam Basa Hormat aya dalapan rupa nya eta:
1. Ragam Basa Lemes Pisan/Luhur;
2. Ragam Basa Lemes keur Batur;
3. Ragam basa Lemes keur Pribadi/Lemes Sedeng;
4. Ragam Basa Lemes Kagok/Panengah;
5. Ragam Basa Lemes Kampung/Dusun; jeung
6. Ragam Basa Lemes Budak.
II. RAGAM BASA LOMA (AKRAB, KASAR)
Basa loma atawa nu ilahar disebut basa Kasar, saenyana lain dina harti kasar henteu ngahormat, tapi kulantaran digunakeun pikeun komunikasi di antara anu geus wanoh, jeung babaturan ulin upamana. Ragam Basa Loma ieu teh aya dua rupa nya eta:
1. Ragam Basa Loma/Akrab; jeung
2. Ragam Basa Garihal/Songong/Kasar Pisan.
Ragam basa anu garihal ieu mah digunakeunana teh keur ka sato atawa digunakeun ku jelma nu keur ambek pisan.
Jadi Undak Usuk Basa Sunda anu dina Kongres Basa Sunda taun 1986 di Cipayung Bogor disebut TATAKRAMA BASA SUNDA teh upama dijumlahkeun mah aya dalapan tahapan (ragam).
Sanajan Konferensi Kebudayaan Sunda I di Bandung jeung Kongres Basa Sunda VII di Garut ngusulkeun supaya Tatakrama Basa Sunda (UUBS) cukup dua tahap bae nyaeta RAGAM HORMAT jeung RAGAM LOMA, tapi dina hirup kumbuh sapopoe mah masih keneh digarunakeun TILU TAHAP/RAGAM . Ieu di handap digambarkeun POLA TATAKRAMA BASA SUNDA dina tilu Tahap/Ragam tea, nyaeta:
· Ragam basa Loma/Akrab/Kasar (A)
· Ragam basa Lemes keur Pribadi (B)
· Ragam basa Lemes keur Batur/Lemes Sedeng
* Katerangan tanda: # henteu sarua; = sarua.
POLA I: A # B # C
Jumlah kecap anu make pola saperti kieu kaitung saeutik pisan (k/l 25 kecap), nu sok disebut kecap lemes keur pribadi/lemes Sedeng, ieu anu ulah salah dina ngalarapkeunana teh:
- balik # WANGSUL # mulih
- bawa # BANTUN # candak
- beuli # PESER # galeuh
- biasa # TIASA # iasa
- boga # GADUH # kagungan
- dahar # NEDA # tuang
- datang # DONGKAP # sumping
- denge # KUPING # dangu
- era # ISIN # lingsem
- gering # UDUR # teu damang
- imah# ROROMPOK # bumi
- indit # MIOS # angkat
- kasakit # PAUDUR # kasawat
- menta # NYUHUNKEUN # mundut
- nitah # NGAJURUNG # miwarang
- ngomong # SASANGGEM #sasauran
- nyaho # TERANG # uninga
- pamajikan # BOJO # garwa/geureuha
- poho # HILAP # lali
- sare # MONDOK # kulem
- tanya # TAROS # pariksa
- tenjo # TINGAL # tingali
Conto kalimahna:
· Ari maneh balik ka lembur teh arek iraha?
· Dupi abdi WANGSUL ka lembur teh bade enjing bae.
· Dupi akang bade mulih ka lembur teh bade iraha?
Perhatikeun pisan pola di luhur:
A # B # C : A henteu sarua jeung B, B henteu sarua jeung C. Upama bae urang geus bisa merenahkeun ngagunakeun kecap-kecap nu ditulis ku aksara gede (kapital) nyaeta kecap-kecap nu kaasup basa Lemes keur Sorangan, urang geus henteu kudu salempang sieun salah nyarita ku Basa Sunda teh.
POLA II: A = B # C
Pola kadua mah nyaeta: A sarua jeung B, tapi B henteu sarua jeung C.
Digunakeunana KECAP LOMA/KASAR pikeun ka diri pribadi, pangpangna anu tumali jeung babagian awak saperti sirah, ceuli, huntu jste, eta kudu ngagunakeun kecap Loma/Kasar, contona:
- huntu = HUNTU # waos
- biwir = BIWIR # lambey
- irung = IRUNG # pangambung
- baju = BAJU # raksukan
- lalajo = LALAJO # nongton
- ngaji = NGAJI # ngaos
- nginum = NGINUM # ngaleueut
- puasa = PUASA # SAUM
- samping = SAMPING # sinjang
- ulin = ULIN # amengan
Conto kalimahna:
· Cenah kamari maneh nyeri huntu, enggeus ka dokter gigi acan?
· Abdi kamari nyeri HUNTU numawi teu tiasa dongkap ka kantor.
· Saurna bapa nyeri waos dinten kamari teh, kumaha ayeuna parantos damang?
POLA III: A # B = C
Pola katilu mah kecap anu digunakeun keur ka diri pribadi teh kudu sarua jeung kecap nu digunakeun keur batur. Jumlahna kaitung rada loba. Ieu keur sakadar conto:
- bungah # BINGAH = bingah
- eleh # KAWON = kawon
- kajeun # SAWIOS = sawios
- kungsi # KANTOS = kantos
- tepung # TEPANG = tepang
Conto kalimahna:
· Jang Iwan kacida bungaheunana dumeh meunang hadiah lebaran.
· Abdi kacida bingahna wireh kenging hadiah lebaran
· Ibu Aminah kalintag bingaheunana wireh kenging hadiah lebaran.
Jumlahna kaitung rada loba oge, malah karereanana mah geus arapal da mindeng digunakeun sapopoe.
POLA IV: A = B = C
Pola anu kaopat ieu mah teu kudu hese mikiranana. Nu kaasup pola nu kaopat ieu teh nya eta kecap bilangan, kecap pananya, kecap panunjuk, kecap tingkatan.
- aya = AYA = aya
- sabaraha = SABARAHA = sabaraha
- kumaha = KUMAHA = kumaha
- naon = NAON = naon
- itu = ITU = itu
- ieu = IEU = ieu
- kahiji = KAHIJI = kahiji
- kasapuluh = KASAPULUH = kasapuluh
.... jeung sajabana ti eta.
PANGJANGKEP TATAKARAMABASA
Ngagunakeunana Tatakrama Basa Sunda (UUBS) henteu lesot tina unsur nu ngarojongna, nya eta:
- Lentongna nyarita (gaya nyarita, intonasi).
- Pasemon.
- Rengkuh (gerakna awak).
- Tata busana.
Tapi nu jadi dadasar utama dina Tatakrama Basa mah nya eta itikad atawa kaweningan hate nu nyaritana. Kalemesan budi jeung rasa kamanusaanana. Hal ieu mah saenyana di luareun aspek basa. Tapi kacida nangtukeunana kana luhur-handapna ajen kamanusaan. Tatakrama raket tumalina jeung adat kabiasaan. Ku kituna dina ngagunakeunanana oge tangtu bae kudu nitenan kana adat kabiasaan di wewengkon masing-masing.
KAGUNAN (FUNGSI) BASA
Digunakeunana basa sabage alat komunikasi teh tangtu bae aya maksud jeung tujuanana, di antarana bae nyaeta:
1. Kagunan Kognitif. Tegesna basa teh digunakeun pikeun nepikeun elmu pangaweruh. Tatakrama basana oge kudu singget, eces jeung nyusun.
2. Kagunan Konatif/Persuasif. Tegesna basa teh digunakeun pikeun mangaruhan batur, supaya nurut kana kahayang nu nyarita.
3. Kagunaan Estetis. Tegesna basa teh digunakeun pikeun ngagambarkeun rasa kaendahan. Ieu oge aya tatakrama basana. Upamana bae kudu bisa gaya basa (stilistika). Nyusun kecap nu endah supaya nimbulkeun rasa endah pikeun nu macana/ngaregepkeunana.
4. Kagunan Fatis. Tegesna nuwuhkeun rasa kataji (hormat, simpatik). Carana nyaeta bisa nyusun kecap, intonasi jeung retorika (elmu nyarita).
CARA DIAJAR NGAGUNAKEUN TATAKRAMA BASA
Ngagunakeun tatakrama basa Sunda tangtu bae hasil tina diajar. Carana di antarana nya eta:
1. Sering merhatikeun batur nu basana luyu tur merenah (baik dan benar).
2. Sering maca buku nu beres susunan basana.
3. Aya sikep kritis waktu maca atawa mun ngabandungan batur nu keur cacarita.
4. Biasakeun nyarita ngagunakeun basa nu luyu tur merenah.
5. Keur latihanana kudu dibiasakeun nyarita ulah rusuh teuing, jadi aya kasempetan pikeun milih jeung nyusun kalimah.
Di masarakat mah kamampuh ngagunakeun Basa Sunda, pangpangna ngagunakeun Tatakrama Basa (UUBS) kacida pentingna. Kapan aya paribasa: Hade ku omong goreng ku omong. Basa mah henteu meuli. Basa mah leuwih seukeut tibatan pedang. Aya paribasa Arab: "Kuli lisani bil Insani" anu hartina "Tambah loba basa anu urang bisa, tambah luhur niley kamanusaanana".
Nurutkeun hasil Konferensi Internasional Budaya Sunda I (KIBS I) di Bandung jeung Kongres Basa Sunda VII di Garut, ditetepkeun yen Tatakrama Basa Sunda teh (UUBS) ngan aya dua Ragam/Tahap nyaeta:
1. Ragam BASA HORMAT, asal tujuanana nu nyarita teh hayang NGAHORMAT ka nu diajak nyaritana. Ku kituna henteu SALAH, atawa bisa dianggap BENER upama aya nu ngomong campur aduk ngagunakeun basa lemes keur batur, basa lemes keur Pribadi jeung basa lemes keur Budak, malah teu nanaon ngagunakeun basa lemes dusun/dialek oge.
2. Ragam BASA LOMA. Ieu mah nya nu saperti ilaharna bae nu disebut basa KASAR. Digunakeunana pikeun nyarita jeung papada nu geus loma. Ngan tangtu bae ari basa garihal/songong mah tetep henteu pantes digunakeun dina cacampuran anu sopan mah.
Kitu hasil putusan KIBS I jeung KBS VII teh. Tapi tangtu bakal aya bae masalah nu disanghareupan mah, di antarana nyaeta kumaha bahan ajarkeuneun di sakola-sakola, da kapan ari di sakola mah tetep kudu ajeg dina palanggeran anu normatif. Ngan nu tetela ku kitu ku kieu ari Basa Sunda mah tetep kudu dipiara jeung digunakeun.
Oleh: PLAN (nami samaran)
Nurutkeun panalungtikan Tatakrama Basa Sunda atawa sok disebut oge UNDAK USUK BASA SUNDA (UUBS) teh wangunna saperti kieu:
I. RAGAM BASA HORMAT (BASA LEMES)
Dina hakekatna digunakeunana ragam hormat teh taya lian pikeun nembongkeun rasa hormat ti nu nyarita ka nu diajak nyarita jeung ka saha nu dicaritakeunana. Ragam Basa Hormat aya dalapan rupa nya eta:
1. Ragam Basa Lemes Pisan/Luhur;
2. Ragam Basa Lemes keur Batur;
3. Ragam basa Lemes keur Pribadi/Lemes Sedeng;
4. Ragam Basa Lemes Kagok/Panengah;
5. Ragam Basa Lemes Kampung/Dusun; jeung
6. Ragam Basa Lemes Budak.
II. RAGAM BASA LOMA (AKRAB, KASAR)
Basa loma atawa nu ilahar disebut basa Kasar, saenyana lain dina harti kasar henteu ngahormat, tapi kulantaran digunakeun pikeun komunikasi di antara anu geus wanoh, jeung babaturan ulin upamana. Ragam Basa Loma ieu teh aya dua rupa nya eta:
1. Ragam Basa Loma/Akrab; jeung
2. Ragam Basa Garihal/Songong/Kasar Pisan.
Ragam basa anu garihal ieu mah digunakeunana teh keur ka sato atawa digunakeun ku jelma nu keur ambek pisan.
Jadi Undak Usuk Basa Sunda anu dina Kongres Basa Sunda taun 1986 di Cipayung Bogor disebut TATAKRAMA BASA SUNDA teh upama dijumlahkeun mah aya dalapan tahapan (ragam).
Sanajan Konferensi Kebudayaan Sunda I di Bandung jeung Kongres Basa Sunda VII di Garut ngusulkeun supaya Tatakrama Basa Sunda (UUBS) cukup dua tahap bae nyaeta RAGAM HORMAT jeung RAGAM LOMA, tapi dina hirup kumbuh sapopoe mah masih keneh digarunakeun TILU TAHAP/RAGAM . Ieu di handap digambarkeun POLA TATAKRAMA BASA SUNDA dina tilu Tahap/Ragam tea, nyaeta:
· Ragam basa Loma/Akrab/Kasar (A)
· Ragam basa Lemes keur Pribadi (B)
· Ragam basa Lemes keur Batur/Lemes Sedeng
* Katerangan tanda: # henteu sarua; = sarua.
POLA I: A # B # C
Jumlah kecap anu make pola saperti kieu kaitung saeutik pisan (k/l 25 kecap), nu sok disebut kecap lemes keur pribadi/lemes Sedeng, ieu anu ulah salah dina ngalarapkeunana teh:
- balik # WANGSUL # mulih
- bawa # BANTUN # candak
- beuli # PESER # galeuh
- biasa # TIASA # iasa
- boga # GADUH # kagungan
- dahar # NEDA # tuang
- datang # DONGKAP # sumping
- denge # KUPING # dangu
- era # ISIN # lingsem
- gering # UDUR # teu damang
- imah# ROROMPOK # bumi
- indit # MIOS # angkat
- kasakit # PAUDUR # kasawat
- menta # NYUHUNKEUN # mundut
- nitah # NGAJURUNG # miwarang
- ngomong # SASANGGEM #sasauran
- nyaho # TERANG # uninga
- pamajikan # BOJO # garwa/geureuha
- poho # HILAP # lali
- sare # MONDOK # kulem
- tanya # TAROS # pariksa
- tenjo # TINGAL # tingali
Conto kalimahna:
· Ari maneh balik ka lembur teh arek iraha?
· Dupi abdi WANGSUL ka lembur teh bade enjing bae.
· Dupi akang bade mulih ka lembur teh bade iraha?
Perhatikeun pisan pola di luhur:
A # B # C : A henteu sarua jeung B, B henteu sarua jeung C. Upama bae urang geus bisa merenahkeun ngagunakeun kecap-kecap nu ditulis ku aksara gede (kapital) nyaeta kecap-kecap nu kaasup basa Lemes keur Sorangan, urang geus henteu kudu salempang sieun salah nyarita ku Basa Sunda teh.
POLA II: A = B # C
Pola kadua mah nyaeta: A sarua jeung B, tapi B henteu sarua jeung C.
Digunakeunana KECAP LOMA/KASAR pikeun ka diri pribadi, pangpangna anu tumali jeung babagian awak saperti sirah, ceuli, huntu jste, eta kudu ngagunakeun kecap Loma/Kasar, contona:
- huntu = HUNTU # waos
- biwir = BIWIR # lambey
- irung = IRUNG # pangambung
- baju = BAJU # raksukan
- lalajo = LALAJO # nongton
- ngaji = NGAJI # ngaos
- nginum = NGINUM # ngaleueut
- puasa = PUASA # SAUM
- samping = SAMPING # sinjang
- ulin = ULIN # amengan
Conto kalimahna:
· Cenah kamari maneh nyeri huntu, enggeus ka dokter gigi acan?
· Abdi kamari nyeri HUNTU numawi teu tiasa dongkap ka kantor.
· Saurna bapa nyeri waos dinten kamari teh, kumaha ayeuna parantos damang?
POLA III: A # B = C
Pola katilu mah kecap anu digunakeun keur ka diri pribadi teh kudu sarua jeung kecap nu digunakeun keur batur. Jumlahna kaitung rada loba. Ieu keur sakadar conto:
- bungah # BINGAH = bingah
- eleh # KAWON = kawon
- kajeun # SAWIOS = sawios
- kungsi # KANTOS = kantos
- tepung # TEPANG = tepang
Conto kalimahna:
· Jang Iwan kacida bungaheunana dumeh meunang hadiah lebaran.
· Abdi kacida bingahna wireh kenging hadiah lebaran
· Ibu Aminah kalintag bingaheunana wireh kenging hadiah lebaran.
Jumlahna kaitung rada loba oge, malah karereanana mah geus arapal da mindeng digunakeun sapopoe.
POLA IV: A = B = C
Pola anu kaopat ieu mah teu kudu hese mikiranana. Nu kaasup pola nu kaopat ieu teh nya eta kecap bilangan, kecap pananya, kecap panunjuk, kecap tingkatan.
- aya = AYA = aya
- sabaraha = SABARAHA = sabaraha
- kumaha = KUMAHA = kumaha
- naon = NAON = naon
- itu = ITU = itu
- ieu = IEU = ieu
- kahiji = KAHIJI = kahiji
- kasapuluh = KASAPULUH = kasapuluh
.... jeung sajabana ti eta.
PANGJANGKEP TATAKARAMABASA
Ngagunakeunana Tatakrama Basa Sunda (UUBS) henteu lesot tina unsur nu ngarojongna, nya eta:
- Lentongna nyarita (gaya nyarita, intonasi).
- Pasemon.
- Rengkuh (gerakna awak).
- Tata busana.
Tapi nu jadi dadasar utama dina Tatakrama Basa mah nya eta itikad atawa kaweningan hate nu nyaritana. Kalemesan budi jeung rasa kamanusaanana. Hal ieu mah saenyana di luareun aspek basa. Tapi kacida nangtukeunana kana luhur-handapna ajen kamanusaan. Tatakrama raket tumalina jeung adat kabiasaan. Ku kituna dina ngagunakeunanana oge tangtu bae kudu nitenan kana adat kabiasaan di wewengkon masing-masing.
KAGUNAN (FUNGSI) BASA
Digunakeunana basa sabage alat komunikasi teh tangtu bae aya maksud jeung tujuanana, di antarana bae nyaeta:
1. Kagunan Kognitif. Tegesna basa teh digunakeun pikeun nepikeun elmu pangaweruh. Tatakrama basana oge kudu singget, eces jeung nyusun.
2. Kagunan Konatif/Persuasif. Tegesna basa teh digunakeun pikeun mangaruhan batur, supaya nurut kana kahayang nu nyarita.
3. Kagunaan Estetis. Tegesna basa teh digunakeun pikeun ngagambarkeun rasa kaendahan. Ieu oge aya tatakrama basana. Upamana bae kudu bisa gaya basa (stilistika). Nyusun kecap nu endah supaya nimbulkeun rasa endah pikeun nu macana/ngaregepkeunana.
4. Kagunan Fatis. Tegesna nuwuhkeun rasa kataji (hormat, simpatik). Carana nyaeta bisa nyusun kecap, intonasi jeung retorika (elmu nyarita).
CARA DIAJAR NGAGUNAKEUN TATAKRAMA BASA
Ngagunakeun tatakrama basa Sunda tangtu bae hasil tina diajar. Carana di antarana nya eta:
1. Sering merhatikeun batur nu basana luyu tur merenah (baik dan benar).
2. Sering maca buku nu beres susunan basana.
3. Aya sikep kritis waktu maca atawa mun ngabandungan batur nu keur cacarita.
4. Biasakeun nyarita ngagunakeun basa nu luyu tur merenah.
5. Keur latihanana kudu dibiasakeun nyarita ulah rusuh teuing, jadi aya kasempetan pikeun milih jeung nyusun kalimah.
Di masarakat mah kamampuh ngagunakeun Basa Sunda, pangpangna ngagunakeun Tatakrama Basa (UUBS) kacida pentingna. Kapan aya paribasa: Hade ku omong goreng ku omong. Basa mah henteu meuli. Basa mah leuwih seukeut tibatan pedang. Aya paribasa Arab: "Kuli lisani bil Insani" anu hartina "Tambah loba basa anu urang bisa, tambah luhur niley kamanusaanana".
Nurutkeun hasil Konferensi Internasional Budaya Sunda I (KIBS I) di Bandung jeung Kongres Basa Sunda VII di Garut, ditetepkeun yen Tatakrama Basa Sunda teh (UUBS) ngan aya dua Ragam/Tahap nyaeta:
1. Ragam BASA HORMAT, asal tujuanana nu nyarita teh hayang NGAHORMAT ka nu diajak nyaritana. Ku kituna henteu SALAH, atawa bisa dianggap BENER upama aya nu ngomong campur aduk ngagunakeun basa lemes keur batur, basa lemes keur Pribadi jeung basa lemes keur Budak, malah teu nanaon ngagunakeun basa lemes dusun/dialek oge.
2. Ragam BASA LOMA. Ieu mah nya nu saperti ilaharna bae nu disebut basa KASAR. Digunakeunana pikeun nyarita jeung papada nu geus loma. Ngan tangtu bae ari basa garihal/songong mah tetep henteu pantes digunakeun dina cacampuran anu sopan mah.
Kitu hasil putusan KIBS I jeung KBS VII teh. Tapi tangtu bakal aya bae masalah nu disanghareupan mah, di antarana nyaeta kumaha bahan ajarkeuneun di sakola-sakola, da kapan ari di sakola mah tetep kudu ajeg dina palanggeran anu normatif. Ngan nu tetela ku kitu ku kieu ari Basa Sunda mah tetep kudu dipiara jeung digunakeun.
Kala Sunda
Sumber: http://su.wikipedia.org/wiki/Kala_Sunda
Kala Sunda nyaéta pananggalan nu geus aya di Tatar Sunda ti jaman baheula kenéh, kurang leuwih ti jaman Aki Tirem di Karajaan Salakanagara. Taunna dingaranan Caka Sunda.
Panalungtikan
Kala Sunda salila mangabad-abad kakubur ku jaman. Panalungtikan deui ngeunaan Kala Sunda ieu kakara diayakeun deui ku Abah Ali kalayan rojongan ti Yayasan Candra Sangkala, nu sabenerna mah Abah Ali teh seja nyieun kalénder ieu ti taun 1983 mula, tapi ku lantaran loba halangan jeung harungan, kakara bisa medal tanggal 18 Januari 2005 di pendopo bumi dines Walikota Bandung, Jalan Dalem Kaum, make upacara adat Sunda anu tartib. Poe ieu marengan tanggal 1 Suklapaksa (parocaang) bulan Kartika taun 1941 Caka Sunda.
Kala Sunda nyaéta pananggalan nu geus aya di Tatar Sunda ti jaman baheula kenéh, kurang leuwih ti jaman Aki Tirem di Karajaan Salakanagara. Taunna dingaranan Caka Sunda.
Panalungtikan
Kala Sunda salila mangabad-abad kakubur ku jaman. Panalungtikan deui ngeunaan Kala Sunda ieu kakara diayakeun deui ku Abah Ali kalayan rojongan ti Yayasan Candra Sangkala, nu sabenerna mah Abah Ali teh seja nyieun kalénder ieu ti taun 1983 mula, tapi ku lantaran loba halangan jeung harungan, kakara bisa medal tanggal 18 Januari 2005 di pendopo bumi dines Walikota Bandung, Jalan Dalem Kaum, make upacara adat Sunda anu tartib. Poe ieu marengan tanggal 1 Suklapaksa (parocaang) bulan Kartika taun 1941 Caka Sunda.
Ajen Inajen Nu Dikandung Dina Kecap SUNDA Selasa, 11 Mei 2010
[Numutkeun leksikografis, etimologis, semantis, heurmanetik]
Ku : Nandang Rusnandar
Aya sababaraha harti kecap Sunda nu kapanggih dina hasil panalungtikan, di antarana wae nu kacatet tina buku Drs. R. Mamun Atmamihardja (Sajarah sunda I. 1956) hasil anjeunna nyukcruk tina rupi-rupi kamus, harti kecap Sunda teh nyaeta :
A. Dina Basa Sansakerta :
SUNDA, jangkar kecapna Sund, moncorong, caang. SUNDA, jenengan Dewa Wisnu. SUNDA, jenengan satria buta (daitya) dina carita Upa Sunda sareng Ni Sunda. SUNDA, satria wanara dina carita Ramayana SUNDA, tina kecap cuddha SUNDA, ngaran gunung di kalereun Bandung (Prof.Berg)
B. Dina Basa Kawi :
SUNDA, hartosna cai -SUNDA, hartosna tumpukan SUNDA, hartosna pangkat SUNDA, hartosna waspada
C. Dina Basa Jawa :
SUNDA, hartosna nyusun SUNDA, hartosna ngarangkep SUNDA, tina candra-sangkala hartosna dua (2) SUNDA, tina kecap ‘unda’ hartosna naek SUNDA, tina kecap ‘unda’ hartosna ngapung
Ku : Nandang Rusnandar
Aya sababaraha harti kecap Sunda nu kapanggih dina hasil panalungtikan, di antarana wae nu kacatet tina buku Drs. R. Mamun Atmamihardja (Sajarah sunda I. 1956) hasil anjeunna nyukcruk tina rupi-rupi kamus, harti kecap Sunda teh nyaeta :
A. Dina Basa Sansakerta :
SUNDA, jangkar kecapna Sund, moncorong, caang. SUNDA, jenengan Dewa Wisnu. SUNDA, jenengan satria buta (daitya) dina carita Upa Sunda sareng Ni Sunda. SUNDA, satria wanara dina carita Ramayana SUNDA, tina kecap cuddha SUNDA, ngaran gunung di kalereun Bandung (Prof.Berg)
B. Dina Basa Kawi :
SUNDA, hartosna cai -SUNDA, hartosna tumpukan SUNDA, hartosna pangkat SUNDA, hartosna waspada
C. Dina Basa Jawa :
SUNDA, hartosna nyusun SUNDA, hartosna ngarangkep SUNDA, tina candra-sangkala hartosna dua (2) SUNDA, tina kecap ‘unda’ hartosna naek SUNDA, tina kecap ‘unda’ hartosna ngapung
yod Sasmita Pimpin Paguyuban Pasundan Kota Bogor Kamis, 15 Juli 2010
ImageKepengurusan Paguyuban Pasundan Kota Bogor massa Bhakti 2010-2015 dikukuhkan dan dilantik oleh Ketua Paguyuban Pasundan Jawa Barat H. Safei di Balaikota Bogor (15/7/2010). Pelantikan disaksikan Asisten Tata Praja Kota Bogor H. Syarip Hidayat dan jajaran Muspida Kota Bogor.
Pengurus yang berjumlah 41 orang dipimpin Ketuanya H. Iyod Sasmita. Iyod dibantu oleh tiga orang wakilnya yakni Ketua I Aim Halim Hermana, H. Asep Firdaus, dan Hj Yayah Warsiah.
Sedangkan Sekrtaris dijabat R. Tedi SAO Wirakusumah dibantu Sekretaris I dan II yakni Roni Suritoga, dan Ayep Ruhiyat. Bendahara Hj Edna Diani Hasrul dan Wakilnya Hj. Nurhadiati.
Kepegurusan dilengkapi Bidang-Bidang yakni Bidang Organisasi dan Hukum, Pendidikan, Kerohanian, Sosial dan Ekonomi, Seni Budaya, Kewanitaan, Pemuda dan Olah Raga dan Bidang Kesekteriatan Umum.
Ketua Paguyuban Pasundan Jawa Barat H. Safei menegaskan, bahwa kondusifnya organisasi Paguyuban Pasudan tidak terlepas dari ketangkasan para pengurusnya dalam membangun kemitraan dengan Pemerintah Daerah.
Ditegaskan, organisasi tidak akan bisa hidup tanpa adanya jalinan kemitraan. “Insya Allah Paguyuban Pasundan di masing-masing anak cabang keberadaannya akan bisa dirasakan manfaatnya, “ kata Safei.
Safei mengatakan, kemitraan dengan pihak luar sangat dibutuhkan, Kamitraan dimaksud bukan hubungan dengan atasan. Tapi, harus merupakan hubungan mitra kerja, yang harus silih asah, silih dan silih asuh. Artinya, cabang-cabang Paguyuban Pasundan harus dinamis, yang dibuktikan dengan jalinan komunikasi dua arah.
Menurut Safei, paguyuban pasundan harus kompak dalam melaksanakan visinya sesuai diatur dalam anggaran dasar. Di Era Globalisasi sekarang ini orang sunda harus berjuang sekuat tenaga mempertahankan solidaritas kasundaan sehingga sunda tidak terpinggirkan. “ Masyarakat sunda jangan bercerai berai, makanya, perlu terus mempertahankan kekompakan, “ingatnya.
Image
Walikota Bogor yang diwakili Asisten Tata Praja Kota Bogor Ade Syarif Hidayat mengakui, seiring dengan semakin derasnya pengaruh globalisasi, untuk mempertahankan budaya sunda terasa semakin berat, Buktinya, dalam kehidupan sehari-sehari sudah jarang warga Kota Bogor yang berbicara menggunakan bahasa sunda, baik dilingkungan keluarga maupun diantara sesama tetangga.
Apalagi, generasi muda saat ini sepertinya tidak peduli terhadap budaya sunda, Begitu pula diantara remaja putri saat ini sudah jarang sekali terlihat mengenakan pakaian kebaya sunda yang menjadi ciri khasnya remaja putri sunda.
Melihat kenyataan ini sepertinya kita sudah kehilangan tatakrama adat budaya sunda. Hal inilah yang mengundang keprihatinan, akibat semakin menipisnya budaya sunda di sekitar Kota Bogor, “ ungkapnya.
Meski demikian tidak perlu berputus asa, warga sunda harus terus berjuan mempertahankan dan memelihara budaya sunda.“ Kita berharap kepada Paguyuban Pasundan, bagaimana caranya bisa memelihara, merawat, dan mempertahankan budaya sunda agar jangan sampai hilang ditatar sunda, “ pinta Ade. (yan/lani)
Pengurus yang berjumlah 41 orang dipimpin Ketuanya H. Iyod Sasmita. Iyod dibantu oleh tiga orang wakilnya yakni Ketua I Aim Halim Hermana, H. Asep Firdaus, dan Hj Yayah Warsiah.
Sedangkan Sekrtaris dijabat R. Tedi SAO Wirakusumah dibantu Sekretaris I dan II yakni Roni Suritoga, dan Ayep Ruhiyat. Bendahara Hj Edna Diani Hasrul dan Wakilnya Hj. Nurhadiati.
Kepegurusan dilengkapi Bidang-Bidang yakni Bidang Organisasi dan Hukum, Pendidikan, Kerohanian, Sosial dan Ekonomi, Seni Budaya, Kewanitaan, Pemuda dan Olah Raga dan Bidang Kesekteriatan Umum.
Ketua Paguyuban Pasundan Jawa Barat H. Safei menegaskan, bahwa kondusifnya organisasi Paguyuban Pasudan tidak terlepas dari ketangkasan para pengurusnya dalam membangun kemitraan dengan Pemerintah Daerah.
Ditegaskan, organisasi tidak akan bisa hidup tanpa adanya jalinan kemitraan. “Insya Allah Paguyuban Pasundan di masing-masing anak cabang keberadaannya akan bisa dirasakan manfaatnya, “ kata Safei.
Safei mengatakan, kemitraan dengan pihak luar sangat dibutuhkan, Kamitraan dimaksud bukan hubungan dengan atasan. Tapi, harus merupakan hubungan mitra kerja, yang harus silih asah, silih dan silih asuh. Artinya, cabang-cabang Paguyuban Pasundan harus dinamis, yang dibuktikan dengan jalinan komunikasi dua arah.
Menurut Safei, paguyuban pasundan harus kompak dalam melaksanakan visinya sesuai diatur dalam anggaran dasar. Di Era Globalisasi sekarang ini orang sunda harus berjuang sekuat tenaga mempertahankan solidaritas kasundaan sehingga sunda tidak terpinggirkan. “ Masyarakat sunda jangan bercerai berai, makanya, perlu terus mempertahankan kekompakan, “ingatnya.
Image
Walikota Bogor yang diwakili Asisten Tata Praja Kota Bogor Ade Syarif Hidayat mengakui, seiring dengan semakin derasnya pengaruh globalisasi, untuk mempertahankan budaya sunda terasa semakin berat, Buktinya, dalam kehidupan sehari-sehari sudah jarang warga Kota Bogor yang berbicara menggunakan bahasa sunda, baik dilingkungan keluarga maupun diantara sesama tetangga.
Apalagi, generasi muda saat ini sepertinya tidak peduli terhadap budaya sunda, Begitu pula diantara remaja putri saat ini sudah jarang sekali terlihat mengenakan pakaian kebaya sunda yang menjadi ciri khasnya remaja putri sunda.
Melihat kenyataan ini sepertinya kita sudah kehilangan tatakrama adat budaya sunda. Hal inilah yang mengundang keprihatinan, akibat semakin menipisnya budaya sunda di sekitar Kota Bogor, “ ungkapnya.
Meski demikian tidak perlu berputus asa, warga sunda harus terus berjuan mempertahankan dan memelihara budaya sunda.“ Kita berharap kepada Paguyuban Pasundan, bagaimana caranya bisa memelihara, merawat, dan mempertahankan budaya sunda agar jangan sampai hilang ditatar sunda, “ pinta Ade. (yan/lani)
Paguyuban Pasundan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Paguyuban Pasundan
Lambang Paguyuban Pasundan
Didirikan 20 Juli 1913
Jenis Organisasi Budaya Sunda
Ketua H. A. Syafe'i
Paguyuban Pasundan (ejaan aslinya Pagoejoeban Pasoendan) adalah organisasi budaya Sunda yang berdiri sejak tanggal 20 Juli 1913, sehingga menjadi salah satu organisasi tertua yang masih eksis sampai saat ini. Selama keberadaannya, organisasi ini telah bergerak dalam bidang pendidikan, sosial-budaya, politik, ekonomi, kepemudaan, dan pemberdayaan perempuan. Paguyuban ini berupaya untuk melestarikan budaya Sunda dengan melibatkan bukan hanya orang Sunda tapi semua yang mempunyai kepedulian terhadap budaya Sunda.
Daftar isi
[sembunyikan]
* 1 Sejarah Masa Pra Kemerdekaan
o 1.1 Awal Berdiri
o 1.2 Kiprah Politik
o 1.3 Bidang Pendidikan
o 1.4 Bidang Ekonomi
o 1.5 Kepemudaan dan Pemberdayaan Perempuan
o 1.6 Masa Penjajahan Jepang
* 2 Kiprah di Masa Kemerdekaan
o 2.1 Masa Revolusi Kemerdekaan
o 2.2 Paguyuban Pasundan Sekarang
* 3 Referensi
* 4 Pranala luar
[sunting] Sejarah Masa Pra Kemerdekaan
[sunting] Awal Berdiri
Secara tidak langsung, kelahiran Paguyuban Pasundan dipengaruhi oleh pendirian Budi Utomo pada hari Rabu tanggal 20 Mei 1908, yang dianggap sebagai tonggak awal kebangkitan bangsa Indonesia menggapai kemerdekaan. Pada awalnya, cukup banyak orang Sunda yang bergabung. Cabang-cabang Budi Utomo juga banyak bermunculan di Jawa Barat, seperti di Bandung dan Bogor. Namun beberapa tahun kemudian, keanggotaan orang Sunda dalam Budi Utomo menurun drastis. Hal ini disebabkan karena menurut mereka, dari segi sosial-budaya, organisasi tersebut hanya memuaskan penduduk Jawa Tengah dan Jawa Timur saja.
Atas inisiatif siswa-siswa Sunda di STOVIA (School Tot Opleiding voor Indlandsche Artsen) – sekolah kedokteran zaman Belanda di Batavia (Jakarta), diupayakan pembuatan organisasi untuk orang-orang Sunda. Selanjutnya, para siswa yang berusia sekitar 22 tahun itu, berkunjung ke rumah Daeng Kandoeroean Ardiwinata, yang saat itu sudah dianggap sebagai sesepuh orang Sunda. Dalam kunjungan tersebut, dinyatakan maksud pendirian perkumpulan orang Sunda sekaligus meminta D. K. Ardiwinata untuk menjadi ketua organisasi.
Setelah D. K. Ardiwinata menyanggupi, maka di rumahnya di Gang Paseban, Salemba, Jakarta, pada hari Minggu tanggal 20 Juli 1913 diadakan rapat untuk pendirian perkumpulan. Dalam rapat itu disepakati pendirian organisasi yang kemudian dinamai “Pagoejoeban Pasoendan”. Saat itu ditetapkan D. K. Ardiwinata sebagai penasehat dan Dajat Hidajat (siswa STOVIA) sebagai ketua.
Pada tanggal 22 September 1914, pengurus paguyuban meminta izin kepada pemerintah untuk dapat melakukan kegiatannya secara sah. Dengan surat keputusan nomor 46 tanggal 9 Desember 1914, izin tersebut diberikan. Selanjutnya, sampai tahun 1918, organisasi ini lebih sebagai perkumpulan sosial-budaya.
[sunting] Kiprah Politik
Oto Iskandar di Nata, Si Jalak Harupat
Seiring dengan keinginan untuk mengadakan perbaikan dalam bidang sosial dan ekonomi, Paguyuban Pasundan merasa perlu untuk turut berkecimpung dalam bidang politik untuk mencapai tujuan-tujuannya. Untuk itu, sejak tahun 1919, seiring dengan dibentuknya Volksraad, dilakukan upaya untuk mendudukkan wakilnya di lembaga tersebut. Selanjutnya dengan surat keputusan nomor 72, tanggal 13 Juni 1919, pemerintah juga mengesahkan Paguyuban Pasundan sebagai perkumpulan politik.
Sejak Desember 1927, Paguyuban Pasundan masuk menjadi anggota PPPKI (Permoefakatan Perhimpoenan-perhimpoenan Politik Kebangsaan Indonesia). Dengan bergabung dalam federasi itu, paguyuban tidak lagi menjadi perkumpulan lokal dengan perhatian hanya pada Pasundan atau Jawa Barat saja, tapi menjadi perkumpulan nasional dengan tujuan bersama yaitu untuk mencapai kemerdekaan bangsa.
Kegiatan dalam bidang politik semakin kuat saat kepemimpinan Oto Iskandar di Nata, yang dijuluki “Si Jalak Harupat”, seorang kelahiran Bojongsoang, Bandung tanggal 31 Maret 1897. Selain menjadi ketua Pengurus Besar Paguyuban Pasundan, ia juga menjadi wakil organisasi tersebut di Volksraad mulai tahun 1931 sampai 1942.
[sunting] Bidang Pendidikan
Sesuai dengan yang tercantum dalam anggaran dasarnya, salah satu jalan yang ditempuh Paguyuban Pasundan dalam mencapai cita-citanya adalah melalui jalur pendidikan dan pengajaran. Upaya pendirian sekolah dimulai dengan mendirikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Pasoendan di Tasikmalaya pada tahun 1922, diikuti pendirian Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Pasoendan, juga di Tasikmalaya, yang medapat bantuan dari pemerintah. Sekolah-sekolah lain terus didirikan, hingga tahun 1941 telah ada 51 sekolah dengan 296 orang guru. Kebanyakan ada di Bandung dan Tasikmalaya, yaitu masing-masing tujuh buah. Sisanya tersebar di 34 tempat lainnya di seantero Jawa Barat.
Untuk mengurus persekolahan tersebut, dalam Kongres Paguyuban Pasundan di Bogor tahun 1931, didirikan Bale Pamulangan Pasundan (BPP), dengan pemimpin pertamanya adalah Ahmad Atmadja. Dengan berdirinya BPP, sekolah-sekolah Pasundan semakin marak. Demikian pula guru dan muridnya semakin banyak.
Pendidikan bagi masyarakat umum, diwujudkan dengan diterbitkannya sembilan media massa selama periode 1914-1942. Salah satunya yang terbesar adalah suratkabar Sipatahoenan yang menjadi corong Paguyuban Pasundan. Semula suratkabar ini diterbitkan Paguyuban Pasundan di Tasikmalaya mulai tahun 1923. Pimpinan redaksi pertamanya adalah Soetisna Sendjaya. Awalnya suratkabar ini terbit seminggu sekali. Namun setelah kepengurusannya diambil alih oleh Pengurus Besar Paguyuban Pasundan tahun 1931, Sipatahoenan bisa terbit harian. Kantornya dipindahkan ke Bandung, tepatnya di Kaca-kaca Wetan, sebelum kemudian pindah ke Banceuy, dan akhirnya di Dalem Kaum.
[sunting] Bidang Ekonomi
Dalam bidang ekonomi, Paguyuban Pasundan dalam kongresnya yang ke 19 di Tasikmalaya tahun 1934, mendirikan Centrale Bank Pasundan, yang berbentuk N. V., dengan pemimpinnya Iyos Wiriaatmadja. Pusatnya berada di Jakarta, sedang di daerah-daerah berdiri cabang-cabangnya.
Kehidupan perkoperasian di lingkungan Paguyuban Pasundan juga cukup marak. Setiap cabangnya mendirikan koperasi yang kebanyakan disebut Koperasi Pasundan. Koperasi-koperasi tersebut bergerak dalam bidang keuangan, perdagangan, ada juga yang khusus menyediakan perabotan untuk para petani. Garapan bidang ekonomi lainnya yang cukup menonjol adalah pendirian Lumbung Padi (Leuit Pare). Pemantauannya dilakukan oleh Puseur Lumbung Pasundan.
Dalam Kongres Paguyuban Pasundan ke 23 di Sukabumi, didirikan badan yang mengelola permasalahan ekonomi yang disebut Bale Ekonomi Pasundan. Pemimpin bale tersebut adalah Raden Soedarna Soeradiredja, yang juga merangkap sebagai Wakil Ketua P. B. Paguyuban Pasundan dan Direktur Centrale Bank Pasundan.
[sunting] Kepemudaan dan Pemberdayaan Perempuan
Untuk mengurus masalah pemberdayaan perempuan, di dalam Paguyuban Pasundan didirikan Pasundan Istri (PASI). Sedangkan dalam kepemudaan, pada bulan Desember 1934 didirikan JOP (Jeugd Organisatie Pasoendan) dengan ketuanya yang pertama R. Adil Poeradiredja. Dalam kongresnya yang pertama tahun 1935 kepanjangan JOP diganti menjadi “Jasana Obor Pasundan”.
Saat suhu politik memanas menjelang Perang Pasifik, didirikan “JOP Brigade” untuk menangkal kejadian-kejadian yang tidak dikehendaki. Beberapa tokoh, diantaranya Jenderal A. H. Nasution turut menyokong, seperti dengan membantu latihan baris berbaris bagi JOP Brigade.
[sunting] Masa Penjajahan Jepang
Dari tahun 1943 sampai dengan 1945, kegiatan politik berbagai perkumpulan di Indonesia, termasuk Paguyuban Pasundan dibekukan oleh penjajah dari Jepang. Sipatahoenan juga turut dibredel dan sebagai gantinya diterbitkan suratkabar Tjahaja yang dikendalikan Jepang. Namun demikian kegiatan paguyuban dalam bidang lainnya seperti pendidikan, kesenian, dan sosial masih diperbolehkan dan bisa terus berjalan.
[sunting] Kiprah di Masa Kemerdekaan
[sunting] Masa Revolusi Kemerdekaan
Setelah pendudukan Jepang berakhir, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan maklumat nomor X tanggal 3 November 1945 tentang pembentukan partai-partai politik. Berdirinya partai-partai politik oleh Pemerintah Republik Indonesia dipandang sebagai partisipasi aktif dari kehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara serta dapat memperkuat perjuangan bangsa mempertahankan kemerdekaan. Keluarnya maklumat tersebut menyebabkan partai-partai di Indonesia hidup kembali seperti Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Islam Masyumi, Partai Buruh Indonesia, Partai Rakyat Sosialis, dan sebagainya. Paguyuban Pasundan saat itu tidak langsung aktif kembali. Hal ini terutama disebabkan karena R. Oto Iskandar di Nata, yang dianggap sebagai figur yang dapat memimpin kembali Paguyuban Pasundan, hilang secara misterius bersama beberapa tokoh kemerdekaan lainnya.
Namun kemudian muncul sebuah partai yang konon didalangi Belanda dengan nama Partai Rakyat Pasundan (PRP) yang mempunyai visi yang tidak sejalan dengan Paguyuban Pasundan. Hal tersebut memicu para anggota Paguyuban Pasundan untuk menghidupkan kembali organisasinya. Maka berdirilah kembali Paguyuban Pasundan di Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta dalam waktu hampir bersamaan. Selanjutnya Bandung ditetapkan sebagai pusat Pengurus Besar Paguyuban Pasundan dengan ketuanya R. S. Suradiradja.
Dalam kongres Paguyuban Pasundan tanggal 29-31 Januari 1949 di Bandung, diputuskan untuk mengubah nama Paguyuban Pasundan menjadi Partai Kebangsaan Indonesia (PARKI) dengan maksud untuk memperluas perjuangan di bidang politik. Partai tersebut kemudian mengikuti pemilihan umum pertama Republik Indonesia pada tahun 1955. Namun suara yang didapat dalam pemilu tersebut sangat minim. Kekalahan tersebut menimbulkan perpecahan di tubuh PARKI. Akhirnya melalui referendum dalam kongres luar biasa PARKI tanggal 29 November 1959, partai tersebut memutuskan untuk mengubah namanya kembali menjadi Paguyuban Pasundan.
[sunting] Paguyuban Pasundan Sekarang
Gedung Universitas Pasundan di Jalan Tamansari 6-8
Setelah kekalahan dalam pemilu tersebut, kegiatan Paguyuban Pasundan lebih didominasi oleh aktivitas dalam bidang pendidikan dan sosial-budaya. Salah satu tonggak perjuangannya dalam bidang pendidikan adalah dengan didirikannya Universitas Pasundan di Bandung pada hari Senin tanggal 14 November 1960.
Kini Paguyuban Pasundan memiliki 32 kantor cabang dengan 492 anak cabang. Sedikitnya 12.300 orang terlibat dalam paguyuban ini. Pelestarian kebudayaan Sunda di era globalisasi kini menjadi prioritas utamanya.
Sekolah-sekolah Pasundan dalam jenjang pendidikan dasar dan menengah bertebaran di wilayah Jawa Barat dan Banten. Sedang dalam jenjang pendidikan tinggi, Paguyuban Pasundan memiliki empat perguruan tinggi, yaitu:
* Universitas Pasundan, didirikan tanggal 14 November 1960 di Bandung.
* Sekolah Tinggi Hukum (STH) Pasundan, didirikan tanggal 14 Januari 1964 di Sukabumi.
* Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Pasundan, didirikan tanggal 29 Mei 1986 di Cimahi.
* Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pasundan, didirikan tanggal 18 Januari 1988 di Bandung.
H. A. Syafe'i Ketua PB Paguyuban Pasundan
Dalam kepengurusan, Kongres Paguyuban Pasundan tanggal 19 Juli 2005 telah memilih pengurus untuk periode 2005-2009, yaitu: H. A. Syafe'i sebagai Pupuhu (Ketua) Pengurus Besar Paguyuban Pasundan dan Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi sebagai Sekretaris Jenderal. Sedangkan Prof. Dr. Ir. Ginandjar Kartasasmita terpilih menjadi Ketua Dewan Pangaping. Juga diangkat Dewan Pakar sebagai berikut:
Djuharja S. Pradja Pakar agama
Miftah Faridh Pakar agama
Setia Hidayat Pakar budaya
Nina Herlina Lubis Pakar budaya
Yus Rusyana Pakar pendidikan
Abin Samsudin Ma’mun Pakar pendidikan
Kusnaka Adimihardja Pakar lingkungan
Rochmin Dahuri Pakar lingkungan
R. E. Suryaatmaja Pakar lingkungan
Sutedja Pakar kesehatan
Sutisna Artawidjaja Pakar kesehatan
Dadang Pakar kesehatan
Didin Damanhuri Pakar ekonomi
Uce K. Suganda Pakar ekonomi
Yusuf Sukardi Pakar ekonomi
Busye Pakar ekonomi
Romly Atmasasmita Pakar hukum dan HAM
Dedi Diana Pakar hukum dan HAM
Bana K. Kartasasmita Pakar kerja sama
Ruchadi Adiwikarta Pakar pemuda dan olahraga
Sekarang urusan pendidikan di Paguyuban Pasundan ditangani oleh dua yayasan sesuai dengan jenjangnya, yaitu Yayasan Pendidikan Tinggi Pasundan dengan ketuanya Prof. Dr. H. Idrus Affandi S.H. dan Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah Pasundan dengan ketuanya R. H. Tata Gautama Suryawan.
Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Paguyuban Pasundan
Lambang Paguyuban Pasundan
Didirikan 20 Juli 1913
Jenis Organisasi Budaya Sunda
Ketua H. A. Syafe'i
Paguyuban Pasundan (ejaan aslinya Pagoejoeban Pasoendan) adalah organisasi budaya Sunda yang berdiri sejak tanggal 20 Juli 1913, sehingga menjadi salah satu organisasi tertua yang masih eksis sampai saat ini. Selama keberadaannya, organisasi ini telah bergerak dalam bidang pendidikan, sosial-budaya, politik, ekonomi, kepemudaan, dan pemberdayaan perempuan. Paguyuban ini berupaya untuk melestarikan budaya Sunda dengan melibatkan bukan hanya orang Sunda tapi semua yang mempunyai kepedulian terhadap budaya Sunda.
Daftar isi
[sembunyikan]
* 1 Sejarah Masa Pra Kemerdekaan
o 1.1 Awal Berdiri
o 1.2 Kiprah Politik
o 1.3 Bidang Pendidikan
o 1.4 Bidang Ekonomi
o 1.5 Kepemudaan dan Pemberdayaan Perempuan
o 1.6 Masa Penjajahan Jepang
* 2 Kiprah di Masa Kemerdekaan
o 2.1 Masa Revolusi Kemerdekaan
o 2.2 Paguyuban Pasundan Sekarang
* 3 Referensi
* 4 Pranala luar
[sunting] Sejarah Masa Pra Kemerdekaan
[sunting] Awal Berdiri
Secara tidak langsung, kelahiran Paguyuban Pasundan dipengaruhi oleh pendirian Budi Utomo pada hari Rabu tanggal 20 Mei 1908, yang dianggap sebagai tonggak awal kebangkitan bangsa Indonesia menggapai kemerdekaan. Pada awalnya, cukup banyak orang Sunda yang bergabung. Cabang-cabang Budi Utomo juga banyak bermunculan di Jawa Barat, seperti di Bandung dan Bogor. Namun beberapa tahun kemudian, keanggotaan orang Sunda dalam Budi Utomo menurun drastis. Hal ini disebabkan karena menurut mereka, dari segi sosial-budaya, organisasi tersebut hanya memuaskan penduduk Jawa Tengah dan Jawa Timur saja.
Atas inisiatif siswa-siswa Sunda di STOVIA (School Tot Opleiding voor Indlandsche Artsen) – sekolah kedokteran zaman Belanda di Batavia (Jakarta), diupayakan pembuatan organisasi untuk orang-orang Sunda. Selanjutnya, para siswa yang berusia sekitar 22 tahun itu, berkunjung ke rumah Daeng Kandoeroean Ardiwinata, yang saat itu sudah dianggap sebagai sesepuh orang Sunda. Dalam kunjungan tersebut, dinyatakan maksud pendirian perkumpulan orang Sunda sekaligus meminta D. K. Ardiwinata untuk menjadi ketua organisasi.
Setelah D. K. Ardiwinata menyanggupi, maka di rumahnya di Gang Paseban, Salemba, Jakarta, pada hari Minggu tanggal 20 Juli 1913 diadakan rapat untuk pendirian perkumpulan. Dalam rapat itu disepakati pendirian organisasi yang kemudian dinamai “Pagoejoeban Pasoendan”. Saat itu ditetapkan D. K. Ardiwinata sebagai penasehat dan Dajat Hidajat (siswa STOVIA) sebagai ketua.
Pada tanggal 22 September 1914, pengurus paguyuban meminta izin kepada pemerintah untuk dapat melakukan kegiatannya secara sah. Dengan surat keputusan nomor 46 tanggal 9 Desember 1914, izin tersebut diberikan. Selanjutnya, sampai tahun 1918, organisasi ini lebih sebagai perkumpulan sosial-budaya.
[sunting] Kiprah Politik
Oto Iskandar di Nata, Si Jalak Harupat
Seiring dengan keinginan untuk mengadakan perbaikan dalam bidang sosial dan ekonomi, Paguyuban Pasundan merasa perlu untuk turut berkecimpung dalam bidang politik untuk mencapai tujuan-tujuannya. Untuk itu, sejak tahun 1919, seiring dengan dibentuknya Volksraad, dilakukan upaya untuk mendudukkan wakilnya di lembaga tersebut. Selanjutnya dengan surat keputusan nomor 72, tanggal 13 Juni 1919, pemerintah juga mengesahkan Paguyuban Pasundan sebagai perkumpulan politik.
Sejak Desember 1927, Paguyuban Pasundan masuk menjadi anggota PPPKI (Permoefakatan Perhimpoenan-perhimpoenan Politik Kebangsaan Indonesia). Dengan bergabung dalam federasi itu, paguyuban tidak lagi menjadi perkumpulan lokal dengan perhatian hanya pada Pasundan atau Jawa Barat saja, tapi menjadi perkumpulan nasional dengan tujuan bersama yaitu untuk mencapai kemerdekaan bangsa.
Kegiatan dalam bidang politik semakin kuat saat kepemimpinan Oto Iskandar di Nata, yang dijuluki “Si Jalak Harupat”, seorang kelahiran Bojongsoang, Bandung tanggal 31 Maret 1897. Selain menjadi ketua Pengurus Besar Paguyuban Pasundan, ia juga menjadi wakil organisasi tersebut di Volksraad mulai tahun 1931 sampai 1942.
[sunting] Bidang Pendidikan
Sesuai dengan yang tercantum dalam anggaran dasarnya, salah satu jalan yang ditempuh Paguyuban Pasundan dalam mencapai cita-citanya adalah melalui jalur pendidikan dan pengajaran. Upaya pendirian sekolah dimulai dengan mendirikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Pasoendan di Tasikmalaya pada tahun 1922, diikuti pendirian Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Pasoendan, juga di Tasikmalaya, yang medapat bantuan dari pemerintah. Sekolah-sekolah lain terus didirikan, hingga tahun 1941 telah ada 51 sekolah dengan 296 orang guru. Kebanyakan ada di Bandung dan Tasikmalaya, yaitu masing-masing tujuh buah. Sisanya tersebar di 34 tempat lainnya di seantero Jawa Barat.
Untuk mengurus persekolahan tersebut, dalam Kongres Paguyuban Pasundan di Bogor tahun 1931, didirikan Bale Pamulangan Pasundan (BPP), dengan pemimpin pertamanya adalah Ahmad Atmadja. Dengan berdirinya BPP, sekolah-sekolah Pasundan semakin marak. Demikian pula guru dan muridnya semakin banyak.
Pendidikan bagi masyarakat umum, diwujudkan dengan diterbitkannya sembilan media massa selama periode 1914-1942. Salah satunya yang terbesar adalah suratkabar Sipatahoenan yang menjadi corong Paguyuban Pasundan. Semula suratkabar ini diterbitkan Paguyuban Pasundan di Tasikmalaya mulai tahun 1923. Pimpinan redaksi pertamanya adalah Soetisna Sendjaya. Awalnya suratkabar ini terbit seminggu sekali. Namun setelah kepengurusannya diambil alih oleh Pengurus Besar Paguyuban Pasundan tahun 1931, Sipatahoenan bisa terbit harian. Kantornya dipindahkan ke Bandung, tepatnya di Kaca-kaca Wetan, sebelum kemudian pindah ke Banceuy, dan akhirnya di Dalem Kaum.
[sunting] Bidang Ekonomi
Dalam bidang ekonomi, Paguyuban Pasundan dalam kongresnya yang ke 19 di Tasikmalaya tahun 1934, mendirikan Centrale Bank Pasundan, yang berbentuk N. V., dengan pemimpinnya Iyos Wiriaatmadja. Pusatnya berada di Jakarta, sedang di daerah-daerah berdiri cabang-cabangnya.
Kehidupan perkoperasian di lingkungan Paguyuban Pasundan juga cukup marak. Setiap cabangnya mendirikan koperasi yang kebanyakan disebut Koperasi Pasundan. Koperasi-koperasi tersebut bergerak dalam bidang keuangan, perdagangan, ada juga yang khusus menyediakan perabotan untuk para petani. Garapan bidang ekonomi lainnya yang cukup menonjol adalah pendirian Lumbung Padi (Leuit Pare). Pemantauannya dilakukan oleh Puseur Lumbung Pasundan.
Dalam Kongres Paguyuban Pasundan ke 23 di Sukabumi, didirikan badan yang mengelola permasalahan ekonomi yang disebut Bale Ekonomi Pasundan. Pemimpin bale tersebut adalah Raden Soedarna Soeradiredja, yang juga merangkap sebagai Wakil Ketua P. B. Paguyuban Pasundan dan Direktur Centrale Bank Pasundan.
[sunting] Kepemudaan dan Pemberdayaan Perempuan
Untuk mengurus masalah pemberdayaan perempuan, di dalam Paguyuban Pasundan didirikan Pasundan Istri (PASI). Sedangkan dalam kepemudaan, pada bulan Desember 1934 didirikan JOP (Jeugd Organisatie Pasoendan) dengan ketuanya yang pertama R. Adil Poeradiredja. Dalam kongresnya yang pertama tahun 1935 kepanjangan JOP diganti menjadi “Jasana Obor Pasundan”.
Saat suhu politik memanas menjelang Perang Pasifik, didirikan “JOP Brigade” untuk menangkal kejadian-kejadian yang tidak dikehendaki. Beberapa tokoh, diantaranya Jenderal A. H. Nasution turut menyokong, seperti dengan membantu latihan baris berbaris bagi JOP Brigade.
[sunting] Masa Penjajahan Jepang
Dari tahun 1943 sampai dengan 1945, kegiatan politik berbagai perkumpulan di Indonesia, termasuk Paguyuban Pasundan dibekukan oleh penjajah dari Jepang. Sipatahoenan juga turut dibredel dan sebagai gantinya diterbitkan suratkabar Tjahaja yang dikendalikan Jepang. Namun demikian kegiatan paguyuban dalam bidang lainnya seperti pendidikan, kesenian, dan sosial masih diperbolehkan dan bisa terus berjalan.
[sunting] Kiprah di Masa Kemerdekaan
[sunting] Masa Revolusi Kemerdekaan
Setelah pendudukan Jepang berakhir, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan maklumat nomor X tanggal 3 November 1945 tentang pembentukan partai-partai politik. Berdirinya partai-partai politik oleh Pemerintah Republik Indonesia dipandang sebagai partisipasi aktif dari kehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara serta dapat memperkuat perjuangan bangsa mempertahankan kemerdekaan. Keluarnya maklumat tersebut menyebabkan partai-partai di Indonesia hidup kembali seperti Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Islam Masyumi, Partai Buruh Indonesia, Partai Rakyat Sosialis, dan sebagainya. Paguyuban Pasundan saat itu tidak langsung aktif kembali. Hal ini terutama disebabkan karena R. Oto Iskandar di Nata, yang dianggap sebagai figur yang dapat memimpin kembali Paguyuban Pasundan, hilang secara misterius bersama beberapa tokoh kemerdekaan lainnya.
Namun kemudian muncul sebuah partai yang konon didalangi Belanda dengan nama Partai Rakyat Pasundan (PRP) yang mempunyai visi yang tidak sejalan dengan Paguyuban Pasundan. Hal tersebut memicu para anggota Paguyuban Pasundan untuk menghidupkan kembali organisasinya. Maka berdirilah kembali Paguyuban Pasundan di Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta dalam waktu hampir bersamaan. Selanjutnya Bandung ditetapkan sebagai pusat Pengurus Besar Paguyuban Pasundan dengan ketuanya R. S. Suradiradja.
Dalam kongres Paguyuban Pasundan tanggal 29-31 Januari 1949 di Bandung, diputuskan untuk mengubah nama Paguyuban Pasundan menjadi Partai Kebangsaan Indonesia (PARKI) dengan maksud untuk memperluas perjuangan di bidang politik. Partai tersebut kemudian mengikuti pemilihan umum pertama Republik Indonesia pada tahun 1955. Namun suara yang didapat dalam pemilu tersebut sangat minim. Kekalahan tersebut menimbulkan perpecahan di tubuh PARKI. Akhirnya melalui referendum dalam kongres luar biasa PARKI tanggal 29 November 1959, partai tersebut memutuskan untuk mengubah namanya kembali menjadi Paguyuban Pasundan.
[sunting] Paguyuban Pasundan Sekarang
Gedung Universitas Pasundan di Jalan Tamansari 6-8
Setelah kekalahan dalam pemilu tersebut, kegiatan Paguyuban Pasundan lebih didominasi oleh aktivitas dalam bidang pendidikan dan sosial-budaya. Salah satu tonggak perjuangannya dalam bidang pendidikan adalah dengan didirikannya Universitas Pasundan di Bandung pada hari Senin tanggal 14 November 1960.
Kini Paguyuban Pasundan memiliki 32 kantor cabang dengan 492 anak cabang. Sedikitnya 12.300 orang terlibat dalam paguyuban ini. Pelestarian kebudayaan Sunda di era globalisasi kini menjadi prioritas utamanya.
Sekolah-sekolah Pasundan dalam jenjang pendidikan dasar dan menengah bertebaran di wilayah Jawa Barat dan Banten. Sedang dalam jenjang pendidikan tinggi, Paguyuban Pasundan memiliki empat perguruan tinggi, yaitu:
* Universitas Pasundan, didirikan tanggal 14 November 1960 di Bandung.
* Sekolah Tinggi Hukum (STH) Pasundan, didirikan tanggal 14 Januari 1964 di Sukabumi.
* Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Pasundan, didirikan tanggal 29 Mei 1986 di Cimahi.
* Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pasundan, didirikan tanggal 18 Januari 1988 di Bandung.
H. A. Syafe'i Ketua PB Paguyuban Pasundan
Dalam kepengurusan, Kongres Paguyuban Pasundan tanggal 19 Juli 2005 telah memilih pengurus untuk periode 2005-2009, yaitu: H. A. Syafe'i sebagai Pupuhu (Ketua) Pengurus Besar Paguyuban Pasundan dan Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi sebagai Sekretaris Jenderal. Sedangkan Prof. Dr. Ir. Ginandjar Kartasasmita terpilih menjadi Ketua Dewan Pangaping. Juga diangkat Dewan Pakar sebagai berikut:
Djuharja S. Pradja Pakar agama
Miftah Faridh Pakar agama
Setia Hidayat Pakar budaya
Nina Herlina Lubis Pakar budaya
Yus Rusyana Pakar pendidikan
Abin Samsudin Ma’mun Pakar pendidikan
Kusnaka Adimihardja Pakar lingkungan
Rochmin Dahuri Pakar lingkungan
R. E. Suryaatmaja Pakar lingkungan
Sutedja Pakar kesehatan
Sutisna Artawidjaja Pakar kesehatan
Dadang Pakar kesehatan
Didin Damanhuri Pakar ekonomi
Uce K. Suganda Pakar ekonomi
Yusuf Sukardi Pakar ekonomi
Busye Pakar ekonomi
Romly Atmasasmita Pakar hukum dan HAM
Dedi Diana Pakar hukum dan HAM
Bana K. Kartasasmita Pakar kerja sama
Ruchadi Adiwikarta Pakar pemuda dan olahraga
Sekarang urusan pendidikan di Paguyuban Pasundan ditangani oleh dua yayasan sesuai dengan jenjangnya, yaitu Yayasan Pendidikan Tinggi Pasundan dengan ketuanya Prof. Dr. H. Idrus Affandi S.H. dan Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah Pasundan dengan ketuanya R. H. Tata Gautama Suryawan.
Langganan:
Komentar (Atom)