Jumat, 23 Juli 2010

Organisasi Urang Sunda Gelar Halal Bi Halal PDF Cetak E-mail Kliping Berita Sabtu, 31 Oktober 2009 09:39

Organisasi Urang Sunda Gelar Halal Bi Halal PDF Cetak E-mail
Kliping Berita
Sabtu, 31 Oktober 2009 09:39
[Liputan 6 SCTV]

Liputan 6 SCTV
Liputan6.com, Jakarta: Badan Musyawarah Masyarakat Sunda (Bammus Sunda) menggelar halal bi halal serta silaturahim dengan masyarakat Sunda yang bermukim di Jakarta, Jumat (30/10). Ketua Bammus Sunda Adang Daradjatun menekankan organisasi urang Sunda ini tidak terlibat dalam kegiatan politik tetapi berkonsentrasi pada kegiatan sosial.

Hampir seluruh pengurus, dewan pakar, dan tokoh Bammus Sunda dari kalangan DPR, seniman, artis, pelawak, serta praktisi ekonomi hadir dalam halal bi halal ini. Dalam acara juga dihadirkan sejumlah kesenian Sunda seperti tari rampak gendang dan koleksi batik Nunun Daradjatun.(JUM)

FESTIVAL ADAT PERKAWINAN INDONESIA MEMUKAU DI ATHENA

FESTIVAL ADAT PERKAWINAN INDONESIA MEMUKAU DI ATHENA

London, 29/5 (ANTARA) - Sekitar 500 undangan yang terdiri dari isteri pejabat dan Duta Besar negara asing di Athena, anggota Women International Club (WIC), pengusaha, dan undangan dengan antusias mengikuti prosesi pernikahan yang dibawakan 32 peserta Asosiasi Perias Pengantin Seluruh Indonesia (HARPI Melati).

Pementasan adat perkawinan Sunda dan Bangka tampil memikat pada acara "Indonesian Traditional Wedding Festival yang sebelum prosesi pernikahan ditampilkan, anggota HARPI, Ny. Lilis Zakaria juga memperagakan kebolehannya dalam merias pengantin yang mengundang decak kagum para pengunjung di Hotel Divani Caravel, Athena, ujar Sekretaris Kedua, Widya Sinedu, kepada koresponden Antara London, Sabtu.

Selanjutnya, prosesi adat Sunda mulai dari acara Sungkeman, Saweran, Nincak Endog and Huap Lingkung menjadi daya tarik yang luar biasa. Penonton juga terkagum-kagum dengan rangkaian upacara pernikahan adat Bangka yang menonjolkan nilai-nilai keagamaan dan sosial, ujarnya.

Kesakralan prosesi pernikahan yang dilakoni dengan penuh penjiwaan oleh anggota HARPI membawa undangan seolah-olah berada pada hajatan pernikanan yang sesungguhnya. Keindahan dan keunikan gaun pengantin dan perlengkapan adat Sunda dan Bangka membuat para tamu terkesan dan mengagumi keragaman budaya Indonesia.

Nuansa adat Indonesia semakin kental melalui penataan panggung, Ruang Olympia, Hotel Divani Caravel, yang disulap menjadi pelaminan oleh staf KBRI Athena.

Aneka tanaman dan bunga dipadukan dengan dekorasi nuansa Indonesia seperti payung Bali, aneka kain batik dan tenun ikat, wayang orang, perabotan, poster, lukisan dan ornamen lainnya menambah semarak acara tersebut.

Terlebih seluruh panitia baik dari KBRI Athena maupun HARPI mengenakan busana nasional Indonesia yang mengundang perhatian pengunjung.

Pementasan prosesi pernikahan Sunda dan Bangka dipadukan pula dengan persembahan Tari Topeng dan Tari Merak yang dibawakan dengan lincah oleh anggota HARPI, Ny. Mayasari Yudiono.


Membatik
Para undangan juga merasa tertarik ketika sebelum masuk hall menyaksikan cara membatik yang dipadu-padankan dengan motif tradisional oleh pembatik yang sengaja didatangkan dari Pekalongan sebagai bukti nyata promosi budaya dan wisata.

Selain itu, anggota HARPI lainnya, Ny. Titin Agus Lubis secara khusus menampilkan keahliannya dalam merangkai empat jenis bunga tangan mempelai khas Indonesia.

Sebagai penghargaan kepada para tamu, hasil rangkaian bunga tangan tersebut diberikan kepada Ketua WIC, Olga Roupassdan dan tamu kehormatan lainnya istri Dubes RI untuk Yunani, Ny Anita Rusdi
Acara semakin meriah dengan pagelaran pakaian pengantin tradisional dari 22 daerah oleh Ibu-ibu anggota HARPI.

Peragaan dibuka dengan pakaian pengantin daerah Bali dan ditutup pagelaran pakaian dari Papua dengan iringan lagu Yamko Rambe Yamko dan Gebyar-gebyar.

Peragaan busana menyita perhatian dan mendapat tepukan tangan penonton karena menampilkan pakaian pengantin daerah dan aksesoris yang elegan, terbuat dari bahan, model, corak, dan warna yang bervariasi.
Peragaan busana nusantara ini mampu menginspirasi para undangan yang umumnya kaum wanita dalam memadukan pakaian dan aksesoris serta memilih corak dan mode pakaian yang serasi.

Peragaan tersebut dilanjutkan dengan jamuan santap siang menampilkan kuliner Indonesia atas kerja sama Dharma Wanita dan Hotel Divani Caravel yang diiringi lagu-lagu daerah Indonesia.


Persahabatan
Duta Besar RI untuk Republik Yunani, Ahmad Rusdi, mengemukakan, kegiatan dimaksud menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan seni dan budaya Indonesia sekaligus menjalin persahabatan antara masyarakat Indonesia dan masyarakat Yunani, disamping sebagai upaya untuk meningkatkan promosi obyek wisata Indonesia yang beragam.

Dubes Rusdi lebih lanjut menyampaikan bahwa Indonesia adalah bangsa yang cinta damai, menjunjung tinggi toleransi dan terbuka sehingga lebih mudah berinteraksi dan dikenal oleh bangsa lainnya.

Sementara Ketua HARPI, Ny. Endang Sugiarto, menyampaikan agar pergelaran budaya Indonesia ini dapat menjadi jendela bagi warga masyarakat Yunani dan warga asing lainnya untuk melihat secara langsung kekayaan dan keragaman budaya dan tradisi Indonesia.

Disampaikan pula kesuksesan HARPI dalam mematenkan 90 jenis gaya pengantin sebagai kebudayaan asli Indonesia. HARPI merupakan kumpulan perias pengantin dari 33 propinsi yang dibentuk sejak tahun 1974 dengan berbagai kegiatan, telah melanglang buana antara lain ke Kanada, Jepang, China, Korea Selatan, Kairo dan kali ini ke Yunani.

Selanjutnya, Ketua International WIC di Athena, Olga Rompas, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas keberhasilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Athena yang mendatangkan HARPI dengan memperagakan upacara perkawinan sebagai cerminan budaya Indonesia yang unik dan sangat menghormati nilai-nilai ritual keagamaan dan adat.

Menjelang akhir acara, para tamu secara bergantian meminta foto bersama dengan para model pengantin dan para peraga busana. Berbagai pujian terlontarkan saat mereka berpamitan pulang dan ucapan terima kasih atas kenang-kenangan berupa souvenir, tas batik, dan brosur pariwisata Indonesia yang diberikan oleh panitia.

Jakarta, Sejarahnya Dulu --- 22 Jun 2010

Jakarta, Sejarahnya Dulu
22 Jun 2010

* Hiburan
* Pelita

JAKARTA pertama kali dikenal sebagai salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda yang bernama Sunda Kelapa, berlokasi di muara Sungai Ciliwung. Ibukota Kerajaan Sunda yang dikenal sebagai Dayeuh Pakuan Pajajaran atau Pajajaran (sekarang Bogor) dapat ditempuh dari pelabuhan Sunda Kalapa selama dua hari perjalanan. Menurut sumber Portugis, Sunda Kalapa merupakan salah satu pelabuhan yang dimiliki Kerajaan Sunda selain pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara dan Cimanuk.

Sunda Kalapa yang dalam teks ini disebut Kalapa dianggap pelabuhan yang terpenting karena dapat ditempuh dari ibu kota kerajaan yang disebut dengan nama Dayo (dalam bahasa Sunda modem dayeuh yang berarti ibu kota) dalam tempo dua hari. Kerajaan Sunda sendiri merupakan kelanjutan dari Kerajaan Tarumanagara pada abad ke-5 sehingga pelabuhan ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-5 dan diperkirakan merupakan ibukota Tarumanagara yang disebut Sun-dapura.

Pada abad ke-12, pelabuhan ini dikenal sebagai pelabuhan lada yang sibuk. Kapal-kapal asing yang berasal dari Tiongkok, Jepapg, India Selatan, dan TimurTengah sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi komoditas dagang saat itu.

Orang Portugis merupakan" orang Eropa pertama yang datang ke Jakarta. Pada abad ke-16. Surawisesa, raja Sunda meminta bantuan Portugis yang ada di Malaka untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa sebagai perlindungan dari kemungkinan serangan Cirebon yang akan memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. Upaya permintaan bantuan Surawisesa kepada Portugis di Malaka tersebut diabadikan oleh orang Sunda dalam cerita pantun seloka Mundinglaya Dikusumah, dimana Surawisesa diselokakan dengan nama gelarnya yaitu Mundinglaya.

Namun sebelum pendirian benteng tersebut terlaksana. Cirebon yang dibantu Demak langsung menyerang .pelabuhan tersebut. Orang Sundamenyebut peristiwa Ini tragedi, karena penyerangan tersebut membumihanguskan kota pelabuhan tersebut dan membunuh banyak rakyat Sunda disana termasuk syahbandar pelabuhan.

Tatahillah

PENETAPAN hari jadi Jakarta tanggal 22 Juni adalah berdasarkan tragedi penak-lukan pelabuhan Sunda Kalapa oleh Fatahillah pada tahun 1527 dan mengganti nama kota tersebut menjadi Jayakarta yang berarti "kota kemenangan". Selanjutnya Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon, menyerahkan pemerintahan di Jayakarta kepada putranya-yaitu Sultan Maulana Hasanuddin yang menjadi sultan di Kesultanan Banten.

Orang Belanda datang ke Jayakarta sekitar akhir abad ke-16, setelah singgah di Banten pada tahun 1596. Jayakarta pada awal abat ke-17 diperintah oleh Pangeran Jayakarta, salah seorang kerabat Kesultanan Banten. Pada 1619, VOC dipimpin oleh Jan Pieters-zoon Coen menduduki Jayakarta setelah mengalahkan pasukan Kesultanan Banten dan kemudian mengubah namanya menjadi Batavia. Selama kolonialisasi Belanda, Batavia berkembang menjadi kota yang besar dan penting.

Untuk pembangunan kota. Belanda banyak mengimpor budak-budak sebagai pekerja. Kebanyakan dari mereka berasal dari Bali. Sulawesi. Maluku, Tiongkok, dan pesisir Malabar, India. Sebagian berpendapat bahwa mereka inilah yang kemudian membentuk komunitas yang dikenal dengan nama suku Betawi. Waktu itu luas Batavia hanya mencakup daerah yang saat ini dikenal sebagai Kota Tua di Jakarta Utara.

Sebelum kedatangan para budak tersebut, sudah ada masyarakat Sunda yang tinggal di wilayah Jayakarta seperti masyarakat Jatinegara Kaum. Sedangkan suku-suku dari etnis pendatang, pada zaman kolinfalisme Belanda, membentuk wilayah komunitasnya masing-masing karena taktik Belanda "divide et impera". Maka di Jakarta ada wilayah-wilayah bekas komunitas itu seperti Pecinan, Pekojan. Kampung Melayu. Kampung Bandan. Kampung Ambon. Kampung Bali, dan Manggarai.

Pada 1 Januari 1926 pemerintah Hindia Belanda membagi Pulau Jawa menjadi 3 provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur dimana Batavia dijadikan salah satu keresidenan dalam provinsi Jawa Barat disamping

Banten, Buitenzorg (Bogor), Priangan, dan Cirebon.

Pada tanggal 9 Oktober 1740, terjadi kerusuhan di Batavia dengan terbunuhnya 5.000 orang Tionghoa. Dengan terjadinya kerusuhan ini. banyak orang Tionghoa yang lari ke luar kota dan melakukan perlawanan terhadap Belanda. Dengan selesainya Koning-splein (Gambir) pada tahun 1818. Batavia berkembang ke arah selatan.

Tahun 1920 .Belanda membangun kota taman Menteng, dan wilayah ini menjadi tempatbaru bagi petinggi Belanda menggantikan Molenvliet di utara. Di awal abad ke-20. Batavia di utara, Koningspein. dan Mester Cornelis (Jatinegara) telah terintegrasi menjadi sebuah kota. Penjajahan oleh Jepangdimulai pada tahun 1942 dan mengganti nama Batavia menjadi Jakarta untuk menarik hati penduduk pada Perang Dunia II. Kota ini juga merupakan tempat dilangsungkannya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan diduduki Belanda sampai pengakuan kedaulatan tahun 1949.

Sejak dinyatakan sebagai ibukota, penduduk Jakarta melonjak sangat pesat akibat kebutuhan tenaga kerja kepemerintahan yang hampir semua terpusat di Jakarta.

Dalam waktu lima tahun penduduknya berlipat lebih dari dua. Berbagai kantung pemukiman kelas menengah baru kemudian berkembang, seperti Kebayoran Baru, Cempaka Putih. Rawamangun, dan Pejompongan. Pusat-pusatpemukiman juga banyak dibangun secara mandiri oleh berbagai kementerian dan institusi milik negara seperti Perum Perumnas.

Pada masa pemerintahan Soekarno, Jakarta melakukan pembangunan proyek besar, antara lain Gelora Bung Karno. Mesjid Istiqlal. dan Monumen Nasional. Pada masa ini pula Poros Medan Merdeka-Tham-rin-Sudlrman mulai dikembangkan sebagai pusat bisnis kota, menggantikan poros Medan Merdeka-Senen-Salem-ba-Jatinegara. Pusat pemukiman besar pertama yang dibuat oleh pihak pengembang swasta adalah Pondok Indah (oleh PT Pembangunan Jaya) pada akhir dekade 1970-an di wilayah Jakarta Selatan.

Jakarta memiliki luas sekitar 661.52 km2 (lautan 6.977.5 km2), dengan penduduk berjumlah 7.552.444 jiwa (2005). Bersama metropolitan Jabodetabek yang berpenduduk sekitar 23 juta jiwa, wilayah ini merupakan metropolitan terbesar di Indonesia atau urutan keenam dunia.

Kini wilayah Jabotabek telah terintegrasi dengan wilayah Bandung Raya, dimana mega-polis Jabodetabek-Bandung Raya mencakup sekitar 30 juta jiwa, yang menempatkan wilayah ini di urutan kedua dunia, setelah megapolis Tokyo.

Bang AU

SOSOK almarhum Ali Sadikin di mata warga Jakarta tidak hanya dikenal sebagai mantan Gubernur DKI Jakarta, tetapi berjasa besar dalam mengubah Jakarta dari sebuah "kampung besar" (big viilage) menjadi kota besar yang megah dan modern dengan berbagai proyek mercusuar pembangunan membanggakan mulai dari Taman Ismail Marzuki fTIM), proyek Senen,kota satelit Pluit, dan pencetus perayaan Jakarta Fair kini berubah menjadi Pekan Raya Jakarta (PRJ).

"Dengan pembangunan fisik dilakukan Bang Ali. Jakarta berubah dari kampung yang besar menjadi sebuah kota yang besar dan megah," kata Sekda DKI Jakarta ketika berziarah di makam Ali Sadikin, baru-baru ini dalam rangka HUT Jakarta.

Menurut Muhayat kegiatan ziarah ke makam pahlawan termasuk mantan Gubernur Ali Sadikin dihadiri sejumlah pejabat Pemprov DKI Jakarta dan Walikota Jaksel Syahrul Effendi, diharapkan semakin mengingatkan masyarakat terhadap jasa para pahlawan termasuk mantan gubernur yang sangat merakyat itu.

Mantan Gubernur DKI Jakarta AH Sadikin, wafat 21 Mei 2008 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir. Jaksel. Sebelum wafat, sosok Ali Sadikin pemimpin tegas dan dikenal memiliki prinsip dan karakter kuat. Tak heran di saat Bang Ali wafat, warga Jakarta merasa kehilangan.

Semasa hidup Ali Sadikin pernah menjabat sebagai Deputi II Panglima Angkatan Laut (1959-1963). Menteri Perhubungan Laut Kabinet Kerja (1963-1964). dan Menko Kompartemen Maritim/Menterl Perhubungan Laut Kabinet Dwikora dan Kabinet Dwikora yang disempurnakan (1964-1966). dan terakhir sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 1966-1977.

Jebolan Sekolah Tinggi Pelayaran Semarang (1945) dan US Marine Corps School Amerika Serikat ini juga merupakan orang pertama yang menerima Anugerah Cipta Utama dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).(naz/jon)

Konsisten Perangi Kemiskinan dan Kebodohan By redaksi

Konsisten Perangi Kemiskinan dan Kebodohan
By redaksi
Selasa, 22-Juni-2010, 08:06:55 46 clicks Send this story to a friend Printable Version

SERANG – Sekretaris Jenderal Paguyuban Pasundan Prof Dr M Didi Turmudji mengatakan, meski lahir di tanah Sunda, namun keberadaan Paguyuban Pasundan merupakan gerakan untuk memupuk kebersamaan dan rasa nasionalisme, bukan organisasi kedaerahan.

Didi Mencontohkan, salah satu pendiri Paguyuban Pasundan adalah Daeng Kandoeroean Ardiwinata yang merupakan keturunan Sulawesi yang menikah dengan keturunan Sunda. “Paguyuban Pasundan lahir untuk kebersamaan dan keberadaan kami untuk membesarkan Indonesia dan bagaimana memerangi kemiskinan dan kebodohan,” kata Didi saat bersilaturahim ke Redaksi Radar Banten, Senin (21/6).
Rektor Universitas Pasundan berkunjung bersama Ketua Panitia Kongres ke-41 Paguyuban Pasundan M Budiana, Koordinator Wilayah Paguyuban Pasundan Banten, Aman Sukarso, dan Sekretaris Koordinator Wilayah Paguyuban Pasundan Banten Heri Erlangga. Mereka diterima Pemimpin Redaksi Mashudi, Redaktur Pelaksana Ahmad Lutfi, dan Koordinator Liputan Aas Ahmad Arbi Syahrostani.
Upaya memerangi kebodohan dan kemiskinan, kata Didi, akan menjadi konsentrasi program yang akan dibicarakan pada Kongres Paguyuban Pasundan ke-41, 26-28 Juli 2010 di Hotel Sol Elite Marbella, Anyer, Kabupaten Serang. Pada kongres tersebut, kata dia, Paguyuban Pasundan akan merajut kebersamaan memerangi kebodohan dan kembali pada basis pemberdayaan masyarakat yang menyentuh kesejahteraan sosial.
Ketua Panitia Kongres Paguyuban Pasundan M Budiana menambahkan, Paguyuban Pasundan memiliki 104 lembaga pendidikan, mulai dari lembaga pendidikan tinggi, menengah, dan dasar. “Kami memiliki empat perguruan tinggi yang jumlah mahasiswa aktif mencapai 16 ribu,” ujarnya.
Budi mengungkapkan, pada kongres nanti akan hadir sekitar 600 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia dan luar negeri. “Mudah-mudahan, dua gubernur yaitu Gubernur Banten (Ratu Atut Chosiyah-red) dan Gubernur Jawa Barat (Ahmad Heryawan-red) dapat hadir pada saat pembukaan kongres nanti. Gubernur Jakarta Fauzi Bowo juga diundang,” ujarnya.
Koordinator Wilayah Paguyuban Pasundan Banten Aman Sukarso mengaku bangga Banten dijadikan lokasi kongres. “Kami cukup bahagia dan mudah-mudahan akan memacu Paguyuban Pasundan di Banten untuk meningkatkan kiprahnya memerangi kebodohan dan kemiskinan,” ujarnya.
Pemimpin Redaksi Radar Banten Mashudi menyambut baik kunjungan pengurus Paguyuban Pasundan . Kata Mashudi, meski menyandang nama Pasundan, ternyata Paguyuban Pasundan telah menjadi organisasi modern dan besar. “Apalagi tujuannya sangat mulia memerangi kebodohan dan kemiskinan. Pelaksanaan kongres nanti, kami siap bermitra,” ujarnya.(run/yes)

Fauzi Bowo Perhatian Terhadapa Budaya Sunda Yang Baku Dan Bali Menjabat Menteri Yang Dimiliki Jogja Dan Lain-Lain Nama Ir Yang Digelar Rabu

Maklum, ia tidak disibukkan mengurus kegiatan-kegiatan lain yang
cukup menyita waktu, sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta
(1972-1981), Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Direktur
Penerbit Dunia Pustaka Jaya, maupun Pemimpin Redaksi Majalah
Kebudayaan Budaya Jaya (1968-1979). Hasilnya, lebih dari 50 judul
buku dalam bahasa Indonesia dan Sunda ditulisnya selama di
Jepang.

Satu hal yang mengesankan Ajip tentang masyarakat Jepang
adalah kesadaran mereka akan pentingnya sastra dalam hidup
mereka. Menurut Ajip, sastra tidak hanya menjadi bahan konsumsi
para sastrawan atau budayawan, tetapi juga telah menjadi bahan
bacaan para dokter atau arsitektur.

Kondisi itu tercipta akibat dukungan kebijakan pemerintah dan
budaya yang ada. Ajip mengatakan, masyarakat Jepang sejak usia
dini telah diperkenalkan dengan buku. "Anak kecil sejak umur dua
hingga tiga tahun sudah diperkenalkan dengan buku."

Kondisi perbukuan di Jepang juga mendukung terciptanya suasana
itu. Harga buku di sana ditetapkan sama di semua wilayah. " Harga
majalah juga sama," katanya.
Pendidikan juga lebih tertata rapi, tinggal melanjutkan tradisi yang
sudah berkembang. Tradisi itu mulai tertancap sejak reformasi Meiji.
Reformasi yang ditandai dengan pengiriman orang-orang Jepang
ke negara-negara maju untuk belajar banyak hal.

Selain itu, juga dilakukan penerjemahan besar-besaran berbagai
macam ilmu, karya budaya, dan karya sastra ke dalam bahasa
Jepang. "Jadi, orang Jepang, walaupun tidak bisa bahasa asing,
misalnya, mereka mengetahui (dan) menguasai ilmu-ilmu di negara-
negara asing," kata Ajip.
Semua itu dilakukan bangsa Jepang dengan penuh semangat dan
keseriusan. Seorang profesor asal Amerika Serikat yang mengajar
bahasa Inggris di Jepang bercerita kepada Ajip, ada seorang
mahasiswanya belajar dengan menghafal kamus bahasa Inggris.

Orang Jepang memang dikenal sebagai bangsa yang amat bangga
dengan bahasanya sendiri, tetapi hal itu tidak membuat mereka
antibahasa asing. Minat orang Jepang terhadap studi-studi
Indonesia juga cukup kuat. Jurusan Bahasa Indonesia (Indoneshia-
go Gakuka) sudah ada di Tokyo Gaikokugo Daigaku sejak tahun
1949.

Selama mengajar di Jepang, Ajip tidak pernah kekurangan
mahasiswa. Di Osaka Gaidai, ia mengajar rata-rata 30 mahasiswa
setiap tahun, 40 mahasiswa di Kyoto Sangyo Daigaku, dan 60
mahasiswa di Tenri Daigaku. "Saya mengajar bahasa Indonesia, sastra Indonesia, budaya
Indonesia, dan Islam di Indonesia," kata Ajip. Beberapa muridnya
kini sudah menjadi presiden direktur dan manajer pada
perusahaan-perusahaan Jepang di Indonesia.

Namun, Ajip mencatat, tingginya gairah dan minat mereka terhadap
bahasa asing bergantung pada kepentingan terhadap negara yang
dipelajari itu. Ketika perekonomian Indonesia berkembang,
perhatian orang Jepang terhadap bahasa Indonesia meningkat.
"Sekarang Indonesia ambruk, perhatian juga berkurang. Ada
beberapa universitas yang tadinya punya jurusan bahasa
Indonesia, sekarang dan diganti dengan Cina," katanya Aji

Sosok Sastrawan dan Budayawan Paripurna

Sosok Ajip Rosidi di mata rekan-rekannya sesama pencinta sastra
dan kebudayaan merupakan sosok yang lengkap, paripurna. Selain
dikenal sebagai sastrawan Sunda, Ajip juga dikenal sebagai sosok
yang memperkaya sastra Indonesia dan memperkenalkan
kebudayaan Sunda di dunia internasional. Ketua Yayasan
Kebudayaan Rancage itu juga dinilai sebagai sosok yang bisa
melepaskan diri dari kecenderungan polarisasi dalam banyak hal.
Salah satunya, polarisasi antara kebudayaan modern dan
kebudayaan tradisional.

Pulang dari Jepang, setelah tinggal di sana selama 22 tahun, Ajip Rosidi merasa gamang. Kegamangan itu dipicu oleh kekhawatiran adanya "pengultusan" terhadap dirinya. Juga kegamangan akan nasib budaya tradisional yang terus terlindas oleh budaya global.

"Saya merasa ngeri karena saya mendapat kesan bahwa saya
hendak dikultuskan sehingga timbul pikiran menciptakan Ajip-Ajip
baru. Saya ngeri karena saya khawatir hal itu menimbulkan rasa
takabur," katanya.

Suara batin itu diungkapkan Ajip Rosidi di hadapan para pencinta
sastra, termasuk para pengagumnya, pada seminar di Universitas
Padjadjaran, Bandung, yang khusus membedah kiprahnya di dunia
sastra, Rabu (28/5/03).

Hampir semua yang hadir memuji semangat dan dedikasi
sastrawan kelahiran Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari
1938, itu. Pengamat sastra Dr Faruk HT, misalnya, secara implisit
memosisikan Ajip sebagai "orang langka" dengan kelebihan yang
tidak dimiliki HB Jassin, Goenawan Mohamad, dan Soebagio
Sastrowardoyo.

Ajip dinilai sebagai sosok yang bisa melepaskan diri dari
kecenderungan polarisasi dalam banyak hal. Salah satunya,
polarisasi antara kebudayaan modern dan kebudayaan tradisional.
Ketika kebudayaan modern dianggap sebagai pilihan yang niscaya,
kata Faruk, Ajip malah getol berbicara tentang kebudayaan
tradisional.

Redaktur PN Balai Pustaka (1955-1956) itu dikenal sangat taat
asas (konsisten) mengembangkan kebudayaan daerah. Terbukti,
Hadiah Sastra Rancage-penghargaan untuk karya sastra Sunda,
Jawa, dan Bali-masih rutin dikeluarkan setiap tahun sejak pertama
kali diluncurkan tahun 1988.

Agama jeung Kapercayaan Sunda Asli Jumat, 26 Juni 2009

Sumber: http://www.urangsunda.net/

Mang Jamal


Nu ngagem:
Urang Sunda Kanekes (ngaran topna: Baduy).
Kanekes teh ngaran hiji tempat di Banten.

Ngaran Agama & Kapercayaan:
Sunda Wiwitan. Wiwitan teh hartina mimiti, asal, poko, jati.
Ngaran sejen: Sunda Asli, Jatisunda (jati, sanes mahoni)

Ngaran Pangeran:
Sang Hiyang Keresa (Nu Maha Kuasa), Nu ngersakeun (Yang Maha Menghendaki).
Sebutan sejen:
Batara Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa),
Batara Jagat (Tuhan Penguasa Alam)
Batara Seda Niskala (Tuhan Yang Maha Gaib)
Tempat Pangeran:
Buana Nyungcung
Kabeh dewa dina konsep agama Hindu (Brahmana, Syiwa, Wisnu, Indra, Yama,jrrd) tunduk ka Batara Seda Niskala.

Konsep Alam ceuk ‘mitologi’ atawa ‘kosmologi’ urang Kanekes aya tilu:
1.Buana Nyungcung, tempat linggih Sang Hiyang Keresa, pangluhurna
2.Buana Panca Tengah, tempat jelema, sato, tatangkalan (kaasup tangkal jengkol jeung peuteuy) jeung sadaya mahluk sejena (sireum, tongo, tumbila,jeung sajabana)
3.Buana Larang , naraka. Panghandapna.

Antara Buana Nyungcung jeung Buana Panca Tengah, aya 18 lapisan (langit tea meureun). Lapisan pangluhurna, ngarana Buana Suci Alam Padang, nu ceuk koropak 630 (sigana nomer lomari paranti nunda naskah kuno di Arsip Nasional Jakarta) disebut Alam Kahiyangan atawa Mandala Hiyang, tempat linggihna Nyi Pohaci Sanghiyang Asri jeung Sunan Ambu. (Sunan Ambu ieu ayeuna dijadikeun ngaran gedong teater di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung (STSI) Buah Batu.

Sang Hiyang Keresa nurunkeun tujuh batara di Sasaka Pusaka Buana. Nu pangkolotna, Batara Cikal, dianggap karuhun urang Kanekes (Baduy).
Turunan batara sejenna marentah di daerah Karang, Jampang, Sajra, Jasinga, Bongbang, Banten.

Kapangaruhan Hindu Saeutik Mun noong ngaran2 batara (‘utusan’ Sang Hiyang Keresa: Wisawara, Wisnu, Brahma), tetela aya pangaruh ti Hindu kana ieu sistem kapercayaan urang Kanekes. Tapi kapercayaan Urang Kanekes ieu lain Hindu.

Buana Panca Tengah
Ieu wilayah jelema jeung mahluk sejenna, dibagi numutkeun tingkat kasucianana:
1.Sasaka Pusaka Buana, dianggap paling suci, ampir ngarendeng jeung Sasaka Domas (atawa Salaka Domas). Ieu pusat dunya.
2.Kampung Jero, Pusat lingkungan Desa Kanekes
3.Kampung Luar/panamping/penyangga/bumper, Desa Kanekes, jadi pusat Banten
4.Banten, jadi pusat Sunda
5.Tanah Sunda
6.Luar Tanah Sunda


Aturan Hirup:
Titahan jeung Pamali (basa urang dinya, Buyut) ti karuhun. Kabuyutan, tempat nu ngandung rupa-rupa pamali. (Teu meunang anu, teu meunang anu tea….)

Ritual/Upacara:
ngukus,
muja,
ngawalu,
ngalaksa.

Muja
Muja diayakeun di Sasaka Pusaka Buana jeung Sasaka Domas dina waktu nu beda. Di Sasaka Pusaka Buana sataun sakali, lilana tilu poe, tiap tanggal 16, 17, 18 bulan Kawolu (bulan kalima numutkeun sistim kalender Urang Kanekes. US boga sistem kalender sorangan tah!). Muja dipingpin ku Puun (sigana sarupaning kepala adat) Cikeusik, jeung jalma2 kapercayaanana (baris kolot-sesepuh meureun). Poe kahiji, rombongan upacara angkat ka ranggon (Talahab- saung). Ngendong di dinya. Isukna, mandi jeung karamas, terus angkat ka ka Sasaka Pusaka Buana ti arah kaler. Upacara muja dilakukeun di undakan kahiji, ngadep ka pasir/bukit SPB, nepi ka tengah poe. Terus mersihan salira, bari memeres palataran undakan. Beres kitu, ngumbah leungeun jeung suku ti batu Sang Hiyang Pangumbahan. Terus naek ka puncak pasir/bukit. Di dinya rombongan ngala lukut nu napel dina batu. Lukut (lumut) eta disebut komala (permata), dibawa mulang jeung dipercaya bisa ngadatangkeun berkah jang nu merlukeun.


Buyut/Pamali
Aya dua jinis:
1.Buyut Adam Tunggal, pamali nalian urang Tangtu (warga kampung jero).
Buyut ieu pamali nu nalian hal poko jeung nu sejenna/rinci
2.Buyut Nuhun, pamali nu berlaku jang orang Panamping jeung Dangka (warga Kanekes Luar).
Buyut ieu mah ngan jang nu poko. Jadi nu di Panamping atawa Dangka kaci dilakukeun, tapi di daerah Tangtu/Kampung Jero mah teu kaci.

Pamali bin buyut ieu ngandung udagan:
a.melindungi kasucian jeung kamurnian suka manusa
b.melindungi kamurnian mandala/tempat cicing
c.melindungi tradisi

Buyut atawa pamali (tabu) diayakeun bisa jadi jang melindungi mandala Kanekes, karena ti samet Karajaan Sunda ancur (1579 Masehi), teu aya deui karajaan nu ngalindungi. Malah sok aya pertentangan kapentingan antara urang Kanekes jeung Kasultanan Banten oge pamarentah kolonial. Tah, ceunah, cara jang melindungi diri sendiri teh make eta pamali atawa buyut!
Teu kawasa, ucapan nu kaluar mun kudu ngarempak buyut.

Hukuman atawa sanksi jang nu ngarempag buyut:
dikaluarkeun/dipiceun/ditamping ti lingkungan asal dina jangka waktu nu tangtu, biasana 40 poe. Upacara pelaksanaan hukuman disebut Panyapuan.


Konsep Daur Hirup
Sukma atawa roh jelema asalna ti Kahiyangan, mun hirup di Buana Panca Tengah angges, sukma balik deui ka Kahiyangan (ngahiyang tea meureun!).
Waktu sukma turun ti Kahiyangan ka Buana Panca Tengah, kondisina rahayu, alus, balik oge kudu kitu. Mun henteu beresih tapi kotor alatan loba buyut/pamali nu dirempag, nya ka naraka. Alus gorengna sukma waktu rek mulang gumantung kana amal perbuatan di Buana Panca Tengah saluyu jeung tugas hidup masing2. Dina raraga mancen tugas, sukma dibekelan 10 indra. Enyaan, sapuluh, lain salah nulis!


-------------------------
Catetan:
Meunang niron ti Edi S. Ekadjati, Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah), Pustaka Jaya, 1995. (Bukuna meunang nginjem ti Arie Kusuma Argadipa, urut mahasiswa si kuring, teu kaburu dibalikeun, da si eta na geus lulus manten, hehe…)